Tentara pendudukan Israel meningkatkan eskalasi serangan di wilayah Al-Quds yang diduduki melalui penutupan akses jalan, penggerebekan, dan penghancuran bangunan secara besar-besaran pada Rabu, 28 Januari 2026. Pasukan pendudukan menyerbu kota Kafr Aqab di utara Al-Quds hanya beberapa jam setelah mereka sempat menarik diri, serta melakukan pengepungan terhadap kota Hizma di wilayah timur laut. Dalam operasi ini, pasukan pendudukan mengerahkan bala bantuan militer tambahan ke Kafr Aqab, menempatkan penembak jitu di atap-atap rumah warga, dan mulai merobohkan struktur bangunan yang berada di dekat tembok apartheid. Laporan resmi dari Kegubernuran Al-Quds menyebutkan bahwa sekitar empat puluh bangunan telah dihancurkan dalam beberapa jam terakhir, meliputi toko, tempat usaha, dinding, kios, hingga gubuk-gubuk seng milik penduduk setempat.
Sumber lokal di lapangan mengungkapkan bahwa pasukan pendudukan menutup total Jalan Bandara dan beberapa titik lain di Kota Tua dengan melepaskan granat kejut ke arah warga serta menggeledah rumah-rumah penduduk. Para tentara Israel juga menangkap sejumlah pemuda Palestina di Jalan Bandara yang menjadi pusat konsentrasi operasi penghancuran. Sementara itu, situasi di dalam penjara juga memanas setelah Kantor Media Tawanan Palestina melaporkan bahwa para tahanan perempuan di penjara Damon Israel menjadi sasaran tindakan represif beberapa hari lalu hanya karena menyimpan sendok logam. Berdasarkan laporan media Al-Alam TV, salah satu tahanan bernama Yasmin Shaaban kini menderita pendarahan dan luka serius pada kakinya akibat serangan fisik yang dilakukan oleh petugas penjara.
Penderitaan tersebut dikonfirmasi oleh Hajja Amina, ibu dari tahanan Yasmin Shaaban, yang berbicara dengan penuh kesedihan mengenai kondisi putrinya setelah masa penahanan administratifnya diperpanjang untuk ketiga kalinya beberapa hari yang lalu. Pihak keluarga menyatakan bahwa Yasmin Shaaban telah mengalami pendarahan rahim yang parah sejak awal penangkapan setahun lalu, ditambah cedera kaki akibat penganiayaan tentara Israel yang hingga kini tidak mendapatkan penanganan medis memadai. Hajja Amina menegaskan bahwa kesehatan putrinya terus merosot drastis hingga kesulitan untuk berdiri tegak akibat pemukulan yang dialaminya di dalam tahanan. Atas dasar kondisi yang mengkhawatirkan ini, pihak keluarga mendesak lembaga internasional, komunitas lokal, dan organisasi masyarakat sipil untuk segera turun tangan melakukan intervensi guna menyelamatkan para tahanan perempuan dari penyiksaan di penjara pendudukan.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: TRT World



