Empat warga Palestina tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan serta gempuran artileri tentara pendudukan Israel di lingkungan Al-Tuffah, sebelah timur Kota Gaza. Serangan ini menjadi bukti berlanjutnya pelanggaran Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya ditaati. Selain di Kota Gaza, artileri Israel juga menyasar wilayah timur kota Khan Yunis di bagian selatan Jalur Gaza. Gempuran ini terjadi bersamaan dengan serangan udara yang menghantam kota Rafah, termasuk beberapa area yang saat ini berada di bawah kendali tentara pendudukan. Kapal perang Israel turut membombardir pesisir pantai selatan Jalur Gaza, sementara kendaraan militer melepaskan tembakan di wilayah barat Rafah. Intensitas serangan juga terasa di wilayah timur Kota Gaza yang menjadi sasaran artileri berat sepanjang operasi tersebut.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa jumlah korban jiwa akibat agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 terus meningkat secara drastis. Hingga saat ini, akumulasi korban jiwa telah mencapai 71.662 orang syahid dan 171.428 orang lainnya mengalami luka-luka. Dalam laporan terbaru selama 24 jam terakhir, pihak rumah sakit di Jalur Gaza menerima dua jenazah korban syahid dan sembilan warga yang terluka. Angka-angka ini menunjukkan besarnya kerugian manusia yang terus terjadi di tengah agresi militer yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Di sisi politik, kelompok perlawanan Hamas menyatakan komitmen penuh mereka terhadap tahap pertama dari kesepakatan gencatan senjata yang telah dirundingkan. Hamas menuntut agar pihak pendudukan Israel melaksanakan seluruh ketentuan perjanjian tersebut tanpa terkecuali. Pernyataan ini muncul di saat Israel mulai membicarakan rencana yang disusun oleh Amerika Serikat untuk masa depan Jalur Gaza. Namun, pihak Palestina menilai fakta di lapangan justru menunjukkan sikap sebaliknya. Israel dianggap enggan untuk sepenuhnya menjalankan kesepakatan yang telah disepakati bersama para mediator.
Ketegangan tidak hanya terbatas di Jalur Gaza, tetapi juga meluas ke wilayah Tepi Barat. Pemerintah Kegubernuran Yerusalem melaporkan bahwa pasukan pendudukan telah menghancurkan sekitar 40 bangunan di kota Kafr Aqab, sebelah utara Yerusalem yang diduduki, dalam sebuah operasi militer berskala besar. Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa pasukan Israel menutup akses ke Jalan Bandara dan beberapa area lainnya sembari melepaskan bom suara serta menyerbu rumah-rumah warga sipil. Tentara pendudukan juga menahan sejumlah pemuda Palestina di pusat lokasi penghancuran bangunan tersebut. Selama operasi berlangsung, tentara Israel terlihat menduduki atap-atap gedung tempat tinggal warga dengan dukungan drone Israel yang terus memantau dari udara. Selain itu, kendaraan berat milik pihak pendudukan melakukan penggusuran lahan di sepanjang tembok apartheid.
Menurut laporan dari kantor berita Reuters, para pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sepenuhnya sepakat dengan posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait rekonstruksi Gaza. Pihak Amerika Serikat menekankan bahwa pembangunan kembali wilayah Gaza tidak akan dimulai selama Hamas belum melucuti senjatanya dan dibubarkan sepenuhnya. Menanggapi hal ini, berbagai elemen politik di Palestina sepakat bahwa pemerintah pendudukan Israel sengaja mengulur waktu. Israel dinilai mencari-cari alasan dengan mengaitkan pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata terhadap kepemilikan senjata milik kelompok perlawanan.
Pemerintah pendudukan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang saat ini menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional terus menunda pelaksanaan tahap kedua gencatan senjata. Padahal, pihak perlawanan dilaporkan telah menyerahkan jenazah tawanan terakhir Israel yang mereka tahan. Langkah Netanyahu yang mencoba menghubungkan perjanjian dengan isu pelucutan senjata dianggap sebagai upaya sabotase terhadap perdamaian. Sementara itu, rakyat Palestina menegaskan hak sah mereka untuk membela diri dari penjajahan. Mereka mendesak dunia internasional untuk memaksa Israel menarik mundur pasukannya, membuka seluruh pintu perlintasan untuk bantuan kemanusiaan, serta segera memulai proses rekonstruksi.
Juru Bicara Militer Brigade Al-Quds Abu Hamza memberikan keterangan penting mengenai koordinasi pencarian jenazah tawanan Israel. Dalam pernyataan singkat pada Senin malam, 26 Januari 2026, ia mengungkapkan bahwa pihak perlawanan telah memberikan koordinat lokasi jenazah tawanan bernama Ran Gweli kepada pihak mediator sejak tiga minggu yang lalu. Abu Hamza menegaskan bahwa keterlambatan proses pencarian ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pihak pendudukan Israel. Menurutnya, Israel sengaja melakukan penundaan dan tidak serius dalam melakukan koordinasi meskipun informasi yang diberikan sudah sangat akurat.
Anggota Biro Politik Hamas Hossam Badran mempertegas sikap gerakan tersebut mengenai masalah persenjataan Palestina. Ia menyatakan bahwa urusan senjata adalah masalah internal nasional yang hanya boleh diputuskan oleh rakyat Palestina sendiri sesuai dengan hukum internasional. Hossam Badran menolak dengan tegas segala syarat tambahan dari pihak luar yang bertujuan untuk melemahkan isi dari kesepakatan gencatan senjata. Ia juga menyerukan kepada para mediator dan penjamin internasional untuk memberikan tekanan nyata kepada Israel. Hal ini sangat penting guna memastikan penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, masuknya bantuan bagi warga terdampak, serta kepastian dimulainya pembangunan kembali infrastruktur yang hancur.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: CGTN


