Skip to main content

Komandan Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi menegaskan bahwa kekuatan militer dan dukungan penuh rakyat merupakan faktor utama yang mematahkan ambisi musuh untuk melemahkan Iran. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat mengunjungi Pusat Pelatihan Angkatan Darat Jawad al-A’immah untuk meninjau kelulusan perwira angkatan ke-11. Dalam pidatonya, ia mengingatkan kembali masa ketika kekuatan adidaya dunia menggunakan Saddam Hussein sebagai kepanjangan tangan untuk memicu perang delapan tahun melawan Iran pada periode 1980 hingga 1988. Menurutnya, serangan besar pada masa lalu itu secara spesifik bertujuan untuk memecah belah wilayah kedaulatan Iran dan meruntuhkan sistem pemerintahan Republik Islam.

Saat ini, Israel dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat dinilai sedang mencoba mencapai ambisi serupa melalui eskalasi konflik yang disebut sebagai perang 12 hari. Namun, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi menekankan bahwa musuh kembali gagal mencapai tujuan jahat mereka berkat arahan strategis dari Pemimpin Besar Revolusi Islam Sayyid Ali Khamenei serta soliditas antara rakyat dan angkatan bersenjata. Setelah kegagalan di medan tempur, pihak musuh kini beralih ke strategi perang informasi dan upaya memicu kekacauan di dalam negeri Iran melalui agen-agen mereka. Ia merujuk pada aksi massa Solidaritas Nasional yang berlangsung pada Senin, 12 Januari 2026, sebagai bukti nyata bahwa jutaan rakyat tetap berdiri teguh mendukung revolusi dan kepemimpinan nasional, sehingga membuat pihak lawan terpaksa mengakui kekalahan mereka.

Di panggung diplomasi, delegasi Republik Islam Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam Amerika Serikat yang dianggap terus melanggar hukum internasional dengan menebar ancaman serangan terhadap negara-negara berdaulat. Dalam pernyataannya pada Selasa, 27 Januari 2026, utusan Iran tersebut mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan militer dan melakukan intervensi secara terbuka. Tindakan ini dinilai sangat bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta merusak stabilitas perdamaian dunia. Pihak Iran mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera mengambil sikap tegas dan berani mengidentifikasi pelanggaran yang dilakukan Washington sebagai ancaman nyata terhadap kedaulatan negara dan sistem internasional.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri dianggap sedang memainkan taktik intimidasi yang tidak menentu dengan sikap yang berubah-ubah antara seruan perang dan ajakan negosiasi. Gaya kepemimpinannya dinilai arogan karena merasa memiliki kekuatan mutlak untuk mengendalikan nasib bangsa-bangsa lain sesuka hati. Meski ia sering melontarkan ancaman serangan dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya, pihak Iran melihat gertakan tersebut sebagai pengakuan tersirat atas kegagalan militer Amerika Serikat di masa lalu. Kondisi ini dilaporkan memicu kepanikan di pihak Israel yang mencemaskan potensi balasan dari Iran, mengingat kemampuan pertahanan Teheran kini dianggap jauh lebih mumpuni dan lebih siap menghadapi segala skenario konflik di kawasan.

Menanggapi ketegangan yang semakin memanas setelah tibanya kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln di Timur Tengah, Juru Bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa Stephane Dujarric menyerukan agar semua pihak segera menahan diri. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut dan meminta agar jalur diplomasi serta dialog tetap menjadi prioritas utama untuk menyelesaikan segala perselisihan dengan Iran. Stephane Dujarric menekankan pentingnya langkah-langkah nyata untuk membangun kepercayaan regional guna menghindari eskalasi konflik yang lebih luas. Selain itu, ia juga menyinggung perang Rusia-Ukraina dengan menegaskan bahwa perdamaian yang abadi hanya dapat dicapai jika kedaulatan wilayah dan integritas negara sepenuhnya dihormati sesuai dengan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Saba