Sekretaris Jenderal Hizbullah Syaikh Naim Qassem menyerukan pada hari Minggu, 26 Januari 2026 agar dilakukan aksi resmi dan populer seluas-luasnya serta tekanan internasional guna membebaskan warga Lebanon yang ditahan di penjara-penjara Israel. Dalam sebuah pesan yang ditujukan kepada para tawanan dan keluarga mereka, Syaikh Naim Qassem mengungkapkan penyesalannya atas tidak adanya tindakan yang memadai dari negara Lebanon maupun tekanan yang cukup terhadap negara-negara sahabat dalam konteks ini. Ia menilai bahwa berkas para tawanan selama ini belum ditempatkan dalam daftar prioritas utama pemerintah.
Syaikh Naim Qassem menegaskan bahwa pemerintah Lebanon memiliki tanggung jawab penuh terhadap warga negaranya untuk mengerahkan segala cara yang memungkinkan dan bekerja secara serius demi membebaskan para tahanan tersebut. Ia menekankan bahwa kasus mereka adalah prioritas dan menyatakan bahwa upaya membebaskan mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kedaulatan serta pembebasan nasional. Sekretaris Jenderal Hizbullah tersebut menyatakan dengan tegas bahwa situasi tidak akan pernah stabil sebelum seluruh tawanan dibebaskan dan nasib mereka yang hilang terungkap secara jelas.
Lebih lanjut, Syaikh Naim Qassem menambahkan bahwa penderitaan para tawanan dalam pertempuran melawan musuh Zionis merupakan kepedihan yang paling mendalam. Saat ini, pihak pendudukan Israel dilaporkan masih menahan sedikitnya 20 warga Lebanon di mana sebagian besar dari mereka ditangkap setelah berlakunya Deklarasi Penghentian Permusuhan pada tanggal 27 November 2024. Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bagi otoritas terkait mengenai kewajiban moral dan politik mereka dalam melindungi warga negara dari tindakan sepihak militer Israel di wilayah perbatasan.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Press TV



