Skip to main content

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa setidaknya 19 orang, termasuk sejumlah jurnalis, mengalami luka-luka akibat serangkaian serangan udara yang dilancarkan angkatan udara pendudukan Israel ke wilayah selatan Lebanon pada Rabu, 21 Januari 2026. Serangan udara yang sangat gencar tersebut secara khusus menyasar pemukiman warga di kota Qanarit, Distrik Sidon, serta beberapa wilayah di Distrik Nabatieh. Koresponden Al-Mayadeen melaporkan bahwa militer Israel menghujani bangunan tempat tinggal di Qanarit dengan bom-bom berat, yang mengakibatkan sepuluh rekan jurnalis yang sedang bertugas di lokasi tersebut terkena dampak serangan, meskipun dilaporkan hanya mengalami luka ringan.

Selain di Qanarit, jet-jet tempur Israel juga melancarkan serangan udara yang menghancurkan sebuah rumah di kota Al-Kafour dan meratakan bangunan yang sebelumnya telah diancam di Jarjouh. Aktivitas drone pengintai Israel dilaporkan sangat intensif di wilayah tersebut untuk memantau pergerakan warga. Di saat yang bersamaan, pesawat tempur penjajah juga menggempur kota Khraibeh dan Ansar. Serangan udara terpisah pada hari yang sama menyasar dua unit mobil di kota Zahrani dan Bazouriyeh, yang menurut data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon, mengakibatkan dua orang tewas seketika di lokasi kejadian.

Tentara Lebanon dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa agresi Israel yang terus berlanjut terhadap bangunan sipil dan rumah warga merupakan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan serta keamanan nasional Lebanon. Tindakan ini juga dinilai sebagai pelanggaran berat terhadap kesepakatan penghentian permusuhan dan Resolusi 1701 PBB. Militer Lebanon menekankan bahwa serangan-serangan terkutuk ini tidak hanya mengintimidasi warga sipil dan memicu jatuhnya korban jiwa, tetapi juga menghambat rencana strategis tentara di lapangan serta memaksa puluhan keluarga untuk mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal mereka, yang pada akhirnya merusak stabilitas keamanan di seluruh kawasan.

Presiden Lebanon Joseph Aoun pada Rabu malam mengutuk keras agresi yang terus dilakukan oleh Israel, menyebutnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum kemanusiaan internasional dan pengabaian terhadap aturan dasar perlindungan penduduk sipil. Joseph Aoun menegaskan bahwa perilaku agresif yang berulang ini membuktikan penolakan Tel Aviv untuk mematuhi komitmen dalam kesepakatan penghentian permusuhan. Ia menuntut komunitas internasional serta negara-negara penjamin kesepakatan untuk memikul tanggung jawab politik dan hukum mereka guna menghentikan agresi Israel secara permanen. Joseph Aoun mendesak diakhirinya kebijakan impunitas terhadap Israel demi menjamin perlindungan warga sipil dan menjaga stabilitas di Lebanon serta Timur Tengah.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency