Skip to main content

Situasi di Jalur Gaza kian mencekam memasuki hari ke-96 sejak gencatan senjata pada 11 Oktober lalu, di mana tentara penjajah Israel dilaporkan terus melancarkan serangan udara dan darat yang merenggut nyawa warga sipil. Sumber lapangan mengonfirmasi kesyahidan seorang pemuda bernama Ahmed Abu Hussein akibat tembakan tentara penjajah di kamp Jabalia, Gaza Utara. Selain itu, serangan serupa menewaskan seorang pemuda di kota Bani Suheila, Khan Yunis Timur. Ketegangan juga memuncak di Rafah setelah militer penjajah mengeklaim telah membunuh dua pejuang perlawanan dalam sebuah bentrokan bersenjata yang melukai dua tentara Israel. Serangkaian serangan udara kini kembali menyasar wilayah barat Rafah, sementara artileri berat membombardir kamp Bureij di Gaza Tengah dan helikopter tempur melancarkan tembakan beruntun di timur Gaza City.

Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memilukan akibat hantaman badai musim dingin yang mematikan. Kementerian Kesehatan mengonfirmasi kematian seorang anak lagi akibat suhu dingin yang membeku, sehingga total korban jiwa anak-anak akibat cuaca ekstrem sejak awal musim dingin kini mencapai tujuh orang. Dalam laporan statistik harian, tercatat lima martir baru dan enam orang luka-luka telah tiba di rumah sakit dalam 24 jam terakhir. Secara kumulatif sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023, jumlah korban syahid di Gaza telah menembus angka 71.424 jiwa dengan 171.324 orang luka-luka, sementara 697 jenazah lainnya berhasil dievakuasi sejak dimulainya gencatan senjata.

Di panggung diplomasi internasional, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar pada Selasa, 13 Januari 2026, mengambil langkah drastis dengan memutuskan semua kontak dengan sejumlah badan PBB dan organisasi internasional. Keputusan ini mengikuti jejak Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump yang telah menarik diri dari 66 badan global, termasuk 31 entitas di bawah naungan PBB. Sa’ar secara resmi memutus hubungan dengan UN Alliance of Civilizations, UN Energy, serta Global Forum on Migration and Development. Pemerintah Israel menuding lembaga-lembaga tersebut tidak efisien, birokratis, dan sering kali dijadikan platform untuk menyerang kepentingan Israel di mata internasional.

Langkah Gideon Sa’ar ini melengkapi daftar hitam organisasi internasional yang sebelumnya telah diputus hubungannya oleh Israel. Lembaga-lembaga tersebut antara lain adalah Kantor Perwakilan Khusus Sekjen PBB untuk Anak-anak dalam Konflik Bersenjata—yang memasukkan militer Israel ke dalam “daftar hitam” pelaku kekerasan terhadap anak—serta UN Women, UNCTAD (Konferensi PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan), dan ESCWA (Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat). Israel mengeklaim bahwa organisasi-organisasi ini secara sistematis mengeluarkan laporan anti-Israel yang tidak berdasar. Pemutusan hubungan diplomatik ini terjadi di tengah peringatan keras PBB mengenai kelangsungan bantuan kemanusiaan di Palestina, terutama setelah Israel sebelumnya juga melarang operasional UNRWA, yang kini terancam lumpuh total akibat hilangnya aset dan akses listrik di wilayah pendudukan.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera