Skip to main content

Kepala Kehakiman Iran, Mohseni Ejei, mengumumkan bahwa persidangan bagi pejabat utama dan dalang yang bertanggung jawab atas kerusuhan selama aksi protes akan digelar secara terbuka. Mohseni Ejei menegaskan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam aksi keji, termasuk pemenggalan dan pembakaran jenazah, akan segera diadili dan dihukum seberat-beratnya. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya eskalasi kekerasan yang menurut Teheran telah berubah dari protes ekonomi damai menjadi kerusuhan bersenjata yang diorganisir oleh pihak asing.

Teheran menyoroti pernyataan provokatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai bentuk intervensi langsung dan terang-terangan terhadap urusan internal Iran. Donald Trump diketahui menghasut massa untuk terus melakukan protes dan merebut lembaga-lembaga negara, yang memicu Teheran untuk memperkuat upaya diplomatik guna menegaskan kedaulatan nasionalnya. Dalam komunikasi telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed menekankan pentingnya kerja sama regional untuk menjaga stabilitas, sementara Araghchi menegaskan tekad rakyat Iran untuk membela keamanan negara dari campur tangan asing.

Di tingkat internasional, misi Iran untuk PBB mendesak Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal untuk mengutuk ancaman penggunaan kekuatan oleh Amerika Serikat. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeed Iravani, menyatakan dalam sebuah surat resmi bahwa Amerika Serikat dan rezim Israel memikul tanggung jawab hukum langsung atas hilangnya nyawa warga sipil yang tidak berdosa. Ia menuduh Washington menggunakan sanksi dan ancaman untuk menciptakan dalih bagi intervensi militer, sebuah strategi yang ia klaim telah gagal dan akan kembali menemui kegagalan.

Sementara itu, Duta Besar Iran di London, Ali Mousavi, dalam pertemuannya dengan Wakil Menteri Luar Negeri Inggris Hamish Falconer pada Selasa, 13 Januari 2026, memperingatkan adanya konspirasi berbahaya untuk mengguncang keamanan di Asia Barat. Kedutaan Besar Iran melalui platform “X” menjelaskan bahwa protes yang dimulai oleh para pelaku usaha akibat tekanan ekonomi dari sanksi ilegal Amerika Serikat dan Eropa awalnya berlangsung damai selama seminggu. Namun, sejak Kamis, 8 Januari 2026, terjadi perubahan nyata di mana elemen-elemen teroris mulai menggunakan senjata dan sengaja menargetkan warga sipil serta aparat keamanan.

Kedutaan Besar Iran menegaskan bahwa entitas Zionis bertanggung jawab langsung atas tindakan teror yang telah menyebabkan syahidnya lebih dari seratus anggota kepolisian Iran. Pihak Kedutaan menyebut peristiwa 8 Januari sebagai “hari ke-13” dari perang 12 hari, dan menuduh Israel berusaha menyeret pemerintahan Donald Trump ke dalam konflik baru demi memicu ketidakstabilan di seluruh Teluk Persia. Teheran meminta London untuk berhati-hati agar tidak terjebak dalam penyesatan politik ini, sembari menegaskan bahwa pemerintah Iran memegang kendali penuh atas keamanan internal dan akan merespons dengan tegas setiap tindakan agresi yang bodoh.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Report