Pesawat tempur penjajah Israel melancarkan serangan udara hebat pada Senin, 12 Januari 2026, yang menargetkan bagian timur lingkungan Al-Tuffah, sebelah timur Gaza City. Di saat yang sama, pasukan penjajah juga membombardir wilayah selatan Mawasi di Kota Rafah serta bagian timur Khan Yunis dan kamp Maghazi menggunakan artileri berat.
Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan pada Selasa, 13 Januari 2026, bahwa jumlah total korban sejak dimulainya genosida pada 7 Oktober 2023 kini telah mencapai 71.419 syahid dan 171.318 orang luka-luka. Dalam 24 jam terakhir saja, rumah sakit menerima 7 jenazah syahid baru. Kementerian juga mengonfirmasi kematian tragis seorang bayi perempuan berusia 7 hari dan seorang anak berusia 4 tahun akibat cuaca dingin yang ekstrem, menambah jumlah anak yang tewas kedinginan menjadi 6 orang sejak awal musim dingin.
Data statistik menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata yang dimulai pada 11 Oktober, sebanyak 442 orang gugur dan 1.240 lainnya luka-luka, sementara 697 jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Tim ambulans dan pertahanan sipil masih kesulitan menjangkau banyak korban yang tertimbun bangunan karena blokade dan serangan yang terus berlangsung.
Di tengah gempuran tersebut, Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional mengumumkan pembunuhan terhadap Direktur Investigasi Kriminal Kepolisian Khan Yunis, Letnan Kolonel Mahmoud Ahmed Al-Astal (40 tahun). Ia tewas ditembak di area Al-Mawasi oleh sekelompok orang di dalam mobil yang diidentifikasi sebagai agen atau antek penjajah Israel. Investigasi awal menunjukkan bahwa serangan ini dilakukan secara terencana sebelum para pelaku melarikan diri.
Pembunuhan Letnan Kolonel Mahmoud Al-Astal terjadi hampir sebulan setelah peristiwa serupa yang menewaskan perwira Ahmed Zamzam di kamp Maghazi pada 14 Desember lalu, yang juga melibatkan kolaborator penjajah. Terkait kejadian ini, Husam al-Astal, seorang komandan milisi yang berbasis di wilayah kendali Israel, mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut melalui video di media sosial dan melontarkan ancaman terhadap anggota Hamas.
Menanggapi insiden ini, Perkumpulan Nasional Suku, Klan, dan Keluarga Palestina mengecam keras kejahatan yang dilakukan oleh kelompok tentara bayaran tersebut. Mereka menyerukan rakyat Palestina untuk tetap waspada, bersatu, dan melaporkan siapa pun yang terbukti membantu penjajah guna melindungi front internal dalam menghadapi upaya adu domba dan infiltrasi di tahap yang sangat sensitif ini.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: MEE



