Skip to main content

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, dalam sebuah wawancara televisi dengan Al Jazeera, memberikan pernyataan komprehensif yang merangkum posisi strategis Teheran di tengah tekanan internasional dan gejolak domestik pada Januari 2026. Araqchi menyatakan bahwa Republik Islam Iran secara prinsip siap untuk kembali ke meja perundingan terkait program nuklirnya, namun ia memberikan syarat tegas bahwa proses tersebut tidak boleh dilakukan di bawah ancaman atau tekanan eksternal. Iran menolak segala bentuk tuntutan yang dipaksakan dan menekankan bahwa meskipun mereka siap untuk opsi diplomasi, mereka belum melihat kesiapan nyata dari Washington untuk melakukan negosiasi yang adil dan jujur. Araqchi memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat memilih untuk menguji kekuatan militer—sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelumnya—Iran saat ini memiliki kesiapan militer yang jauh lebih luas dan besar dibandingkan masa lalu, serta siap menghadapi segala kemungkinan pilihan yang diambil oleh Washington.

Terkait hubungan diplomatik yang bersifat tertutup, Araqchi mengungkapkan informasi krusial mengenai adanya kontak yang terus berlanjut antara dirinya dengan Steve Witkoff, utusan dari pihak Donald Trump. Komunikasi ini dilaporkan tetap berjalan secara konsisten sebelum, selama, hingga setelah pecahnya gelombang protes di Iran. Araqchi mengakui bahwa terdapat beberapa gagasan yang diajukan oleh pihak Washington yang saat ini sedang dipelajari secara mendalam oleh pemerintah Iran. Namun, ia menggarisbawahi adanya kontradiksi besar antara proposal yang diajukan melalui jalur komunikasi tersebut dengan ancaman-ancaman terbuka yang dilontarkan Amerika Serikat terhadap kedaulatan Iran. Ia juga menuduh adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha menjerumuskan Washington ke dalam peperangan demi kepentingan Israel, yang ia sebut sebagai entitas pendudukan.

Mengenai situasi kerusuhan di dalam negeri, Araqchi menjelaskan bahwa elemen-elemen teroris yang terlatih telah menyusup ke tengah massa pengunjuk rasa dengan tujuan sengaja menargetkan pasukan keamanan serta demonstran. Tujuan utama dari aksi pembunuhan tersebut, menurut Araqchi, adalah untuk memprovokasi Presiden Amerika Serikat agar melakukan intervensi langsung. Ia membela kebijakan pemerintah dalam memutus akses internet, dengan menyatakan bahwa langkah tersebut diambil tepat saat operasi teroris yang dikendalikan dari luar negeri dimulai. Araqchi menegaskan bahwa pemerintah Iran pada dasarnya mengakui hak rakyat untuk memprotes, bahkan Presiden Masoud Pezeshkian telah melakukan pertemuan langsung dengan perwakilan pengunjuk rasa. Namun, ia memastikan bahwa Iran tidak akan membiarkan kelompok teroris yang didukung asing, terutama yang berafiliasi dengan Israel, untuk terus menjalankan aktivitas sabotase mereka.

Di tingkat internasional, ketegangan juga merambat ke hubungan bilateral dengan Inggris. Dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper, Araqchi menekankan kewajiban hukum internasional London untuk menjamin keamanan penuh bagi kedutaan dan konsulat Iran. Ia memberikan peringatan keras bahwa kegagalan Inggris dalam melindungi misi diplomatik akan memaksa Iran untuk mengevakuasi seluruh stafnya. Araqchi juga mendesak Inggris agar berhenti mencampuri urusan internal Iran dan menuntut tindakan tegas terhadap individu atau kelompok teroris yang berlindung di balik kedok organisasi media di London untuk menghasut kekerasan, yang mana hal tersebut juga melanggar hukum internal Inggris sendiri mengenai regulasi komunikasi dan antiterorisme.

Di sektor keamanan domestik, Kementerian Keamanan Iran secara resmi mengumumkan keberhasilan operasi intelijen pada 12 Januari 2026 dalam membongkar sel-sel terorisme di berbagai wilayah. Di Teheran, sebuah tim beranggotakan sepuluh orang berhasil ditangkap di dekat Lapangan Haravi atas tuduhan pembunuhan brutal terhadap dua anggota pasukan Basij pada awal Januari. Para tersangka dilaporkan telah memberikan pengakuan mengenai keterlibatan mereka dalam aksi pembakaran masjid, bank, dan properti milik negara. Selain itu, di Provinsi Kerman, pihak keamanan membongkar jaringan tujuh orang yang terhubung dengan organisasi teroris internasional yang berperan dalam memicu kerusuhan. Keberhasilan ini juga diikuti dengan penyitaan besar-besaran 273 pucuk senjata berbagai jenis yang diselundupkan melalui truk transit asing di perbatasan, yang menunjukkan skala upaya pengiriman senjata secara ilegal untuk memperkeruh situasi di Iran.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera