Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeed Iravani, menyampaikan sebuah kecaman yang sangat keras dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi di Venezuela dan ancaman keamanan global. Dalam pidatonya, Iravani menegaskan bahwa ancaman publik yang dilontarkan Amerika Serikat mengenai penggunaan kekuatan militer terhadap Republik Islam Iran merupakan pelanggaran yang sangat mencolok terhadap Piagam PBB. Ia menyatakan bahwa Washington memikul tanggung jawab penuh atas segala bentuk eskalasi atau dampak buruk yang mungkin timbul dari perilaku agresif tersebut. Iravani juga memberikan kritik tajam kepada Dewan Keamanan karena dianggap terus membiarkan tindakan ilegal ini terjadi tanpa sanksi, yang menurutnya justru memberikan keberanian bagi Amerika Serikat untuk terus melanjutkan perilaku yang mengancam stabilitas perdamaian internasional.
Mengenai agresi militer di Venezuela, Iran secara resmi mengutuk penculikan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, sebagai contoh nyata dari praktik terorisme negara. Iravani menegaskan bahwa serangan terhadap kedaulatan sebuah negara merdeka yang merupakan anggota sah Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah pelanggaran berat terhadap Pasal 2 Ayat 4 Piagam PBB. Ia menilai tindakan penculikan tersebut sebagai serangan langsung terhadap prinsip kesetaraan kedaulatan antarnegara dan melanggar hukum internasional kebiasaan mengenai imunitas serta martabat yang diberikan kepada setiap kepala negara. Iran memperingatkan masyarakat internasional bahwa Amerika Serikat saat ini sedang berupaya menggantikan supremasi hukum internasional dengan hukum domestiknya sendiri, sebuah langkah berbahaya yang jika dinormalisasi akan mengubah tatanan dunia menjadi “hukum rimba” di mana kekuatan fisik mengalahkan keadilan hukum.
Iravani juga menyoroti kemunafikan diplomatik Amerika Serikat yang sering kali mengeklaim sebagai pendukung rakyat Iran sementara pada saat yang sama menjatuhkan tindakan paksaan unilateral yang menyengsarakan masyarakat. Ia mengingatkan Dewan Keamanan tentang rekam jejak keterlibatan langsung AS dalam perang agresi ilegal bersama entitas Israel terhadap Iran pada Juni 2025, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur sipil dan jatuhnya korban dari kalangan warga biasa. Bagi Teheran, pernyataan simpati yang datang dari Washington hanyalah “air mata buaya” yang digunakan untuk menutupi catatan panjang campur tangan militer dan operasional yang telah melanggar hak asasi manusia fundamental rakyat Iran selama berpuluh-puluh tahun.
Sebagai penutup, Republik Islam Iran menegaskan kembali hak inherennya untuk membela kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan nasionalnya dari segala bentuk intervensi asing. Iravani menolak mentah-mentah semua tuduhan tanpa dasar yang disampaikan oleh delegasi Amerika Serikat dalam pertemuan tersebut, dengan menyatakan bahwa fakta di lapangan jauh lebih jelas daripada narasi palsu yang sedang dibangun oleh Washington. Iran menuntut agar Dewan Keamanan segera mengambil tindakan nyata untuk menghentikan agresi ini dan memastikan bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran hukum internasional tersebut dimintai pertanggungjawaban demi menjaga keberfungsian sistem keamanan kolektif dunia.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Pars Today



