Skip to main content

Operasi militer sepihak yang diluncurkan Amerika Serikat ke wilayah kedaulatan Venezuela telah memicu kontroversi hebat di panggung internasional, meskipun Washington bersikeras membenarkan intervensi tersebut sebagai upaya memerangi perdagangan narkoba dan perlindungan keamanan nasional. Namun, pembenaran tersebut kini menghadapi keraguan besar dari komunitas global yang justru melihat adanya motif ekonomi yang lebih dalam di balik serangan udara ke Caracas. Spekulasi ini diperkuat oleh fakta bahwa sejauh ini hanya Israel yang secara terbuka mendukung tindakan Amerika Serikat, sementara sebagian besar negara lain mempertanyakan alasan legalitas di balik penculikan seorang kepala negara yang berdaulat beserta istrinya.

Ketidakpercayaan internasional ini didasarkan pada data cadangan energi dunia yang menempatkan Venezuela sebagai pemegang cadangan minyak terbukti terbesar di planet ini, dengan estimasi mencapai 303 miliar barel. Jumlah tersebut jauh melampaui cadangan milik Arab Saudi dan hampir empat kali lipat dari cadangan Amerika Serikat sendiri. Para pengamat politik menilai bahwa upaya kontrol atas sumber daya energi yang luar biasa besar ini menjadi motivasi utama di balik serangan militer tersebut, terutama mengingat produksi harian Venezuela yang rendah saat ini dibandingkan dengan potensi ekonominya yang sangat masif. Tuduhan Washington mengenai kolusi rezim Maduro dengan kartel kokain pun dinilai sebagai selubung politik semata, karena data resmi DEA pada tahun 2025 justru menunjukkan bahwa mayoritas pasokan kokain ke Amerika berasal dari Kolombia, bukan Venezuela, yang menempatkan klaim “terorisme narkoba” sebagai argumen tanpa bukti lapangan yang kuat.

Di dalam negeri Venezuela, kemarahan publik mulai memuncak setelah penangkapan paksa tersebut. Nicolas Maduro Guerra, putra dari presiden yang diculik, telah mengeluarkan seruan emosional kepada rakyat untuk segera memenuhi jalanan dan bersatu di bawah bendera perjuangan demi membawa pulang orang tuanya dengan selamat. Seruan ini didukung oleh Menteri Luar Negeri Ivan Gil Pinto yang menegaskan bahwa agresi tersebut adalah noda hitam bagi kedaulatan seluruh kawasan Amerika Latin dan Karibia. Menurut Pinto, tindakan Amerika Serikat yang melanggar imunitas kepala negara adalah bentuk penculikan terhadap kedaulatan seluruh rakyat Venezuela secara kolektif, dan ia mendesak blok-blok regional untuk tidak tinggal diam menghadapi pelanggaran hukum internasional yang sangat telanjang ini.

Solidaritas internasional terhadap Venezuela juga datang secara tegas dari Iran dan Kuba. Dalam percakapan telepon yang mendalam, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mengecam keras serangan militer Amerika yang menargetkan infrastruktur vital seperti bandara dan pangkalan militer di Caracas. Kedua menteri tersebut sepakat bahwa tindakan Washington merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar hubungan antarnegara. Mereka menyerukan penguatan koordinasi melalui Gerakan Non-Blok dan kelompok negara sahabat Piagam PBB untuk melawan unilateralisme agresif yang mengancam stabilitas global. Bagi Teheran dan Havana, perlawanan terhadap tekanan ekonomi dan militer luar negeri kini menjadi agenda prioritas untuk menjaga keseimbangan hukum internasional dari tindakan sepihak yang destruktif.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: BBC