Seruan global untuk mencabut hak Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 meningkat tajam setelah pengumuman mengejutkan dari Presiden AS Donald Trump mengenai serangan militer ke Venezuela. Ketegangan internasional memuncak menyusul berita penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah penggerebekan udara besar-besaran di Caracas pada Sabtu, 3 Januari 2026. Jaksa Agung AS, Pamela Bondi, kemudian mengonfirmasi melalui media sosial bahwa Maduro dan Flores telah didakwa secara resmi dan akan segera diadili di New York. Tindakan sepihak ini memicu gelombang kemarahan luas, tidak hanya dari negara-negara tetangga di Amerika Selatan tetapi juga dari komunitas internasional dan penggemar sepak bola di seluruh dunia yang mendesak FIFA untuk segera mengambil tindakan tegas.
Reaksi dari negara-negara Amerika Selatan merupakan yang paling keras, di mana para pejabat dan federasi sepak bola di wilayah tersebut mulai mendesak pemerintah mereka untuk memboikot turnamen jika Amerika Serikat tetap menjadi tuan rumah. Kampanye global untuk mencopot AS dari peran tuan rumah dan melarang tim nasional AS berpartisipasi dalam kompetisi internasional telah mendapatkan dukungan ribuan orang dalam hitungan jam. Muncul pertanyaan besar mengenai standar ganda organisasi internasional seperti FIFA dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang hingga kini belum mengeluarkan kecaman resmi atau melarang atlet Amerika bertanding di bawah bendera nasional mereka, sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap negara lain dalam konflik serupa.
Situasi ini menempatkan FIFA dalam posisi yang sangat sulit mengingat Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung hanya dalam waktu kurang dari enam bulan, mulai 11 Juni hingga 19 Juli. Berdasarkan rencana awal, turnamen ini akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, di mana 11 dari 16 kota tuan rumah berada di wilayah AS dan mencakup 78 dari total 104 pertandingan. Meskipun secara logistik hampir mustahil untuk mengubah struktur dan pengaturan turnamen sebesar ini dalam waktu yang sangat singkat, para pengamat olahraga dan aktivis kemanusiaan menegaskan bahwa tidak mungkin mengadakan sebuah perayaan olahraga yang damai di bawah bayang-bayang agresi militer dan pelanggaran kedaulatan negara.
Ketegangan diplomatik ini juga telah mengaktifkan solidaritas dari berbagai benua yang menyerukan keadilan internasional atas apa yang mereka sebut sebagai tindakan imperialisme modern. Jika FIFA tidak segera merespons tuntutan boikot ini, Piala Dunia 2026 terancam menjadi turnamen yang paling terfragmentasi dalam sejarah, kehilangan legitimasi moralnya sebagai pemersatu bangsa-bangsa. Bagi banyak pihak, membiarkan turnamen tetap berjalan di Amerika Serikat di tengah situasi di Caracas saat ini dianggap sebagai bentuk normalisasi terhadap agresi militer yang melanggar hukum internasional dan Piagam PBB.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: The Daily Mirror



