Skip to main content

Menyusul kabar duka atas syahadah Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei di “Rumah Kepemimpinan”, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, secara resmi mengumumkan pada Minggu, 1 Maret 2026, bahwa sesuai dengan konstitusi, sebuah Dewan Kepemimpinan telah dibentuk. Dewan ini bertugas memegang tanggung jawab Pemimpin Besar hingga penggantinya dipilih, guna memastikan stabilitas pemerintahan tetap berjalan normal di tengah situasi perang. Dalam wawancara dengan televisi nasional, Larijani menegaskan bahwa musuh telah melakukan kesalahan fatal jika berpikir pembunuhan para pemimpin dapat menggoyahkan Iran. Beliau mengungkapkan bahwa mendiang Ayatullah Sayyid Ali Khamenei selama ini bersikeras untuk menjalani hidup secara normal tanpa tindakan pengamanan luar biasa, karena menyadari tempatnya yang mendalam di hati rakyat.

Larijani memberikan peringatan keras bahwa agresi tersebut tidak akan dibiarkan tanpa hukuman dan menyatakan bahwa Iran akan “membakar hati para musuhnya.” Beliau menekankan bahwa serangan rudal Iran yang menghantam pangkalan-pangkalan Amerika Serikat dan entitas Zionis kemarin barulah permulaan, dan serangan hari ini akan jauh lebih menyakitkan. Mengenai posisi negara-negara tetangga, Larijani menyatakan telah berkomunikasi dengan para pemimpin kawasan untuk menegaskan bahwa Iran tidak mencari perang dengan mereka, namun pangkalan-pangkalan Amerika di wilayah tersebut kini dianggap sebagai tanah Amerika yang sah untuk ditargetkan. Beliau menyerukan seluruh rakyat untuk bersatu mendukung angkatan bersenjata yang sedang bekerja keras menggagalkan rencana kolonial Washington untuk menjarah kekayaan Iran dan memecah belah negara demi kepentingan entitas Zionis.

Senada dengan itu, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dalam pidato televisinya menegaskan bahwa Iran telah bersiap menghadapi momen ini dan akan melanjutkan jalan yang telah dirintis oleh Rahbar. Qalibaf menyebut Rahbar sebagai “prajurit sempurna bagi Imam Zaman” yang teguh dan setia. Dengan nada tajam, beliau memperingatkan Amerika Serikat dan Israel bahwa mereka telah melewati “garis merah” dan akan membayar harga yang sangat mahal. Beliau menyatakan bahwa anggapan musuh bahwa mereka telah melemahkan Iran adalah sebuah delusi yang hanya akan bertahan selama beberapa hari sebelum serangan balasan yang lebih masif menghancurkan ilusi tersebut. Qalibaf memastikan bahwa angkatan bersenjata akan terus menyerang seluruh pusat militer musuh tanpa henti.

Dari sisi hukum dan diplomasi, Kepala Kehakiman Gholam Hossein Mohseni Ejei serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi memperkuat narasi keteguhan nasional. Ejei menegaskan bahwa rezim arogan tidak akan pernah bisa memeras konsesi dari rakyat Iran melalui tumpah darah pemimpin mereka, karena bangsa Iran kini justru lebih berkomitmen pada jalur perlawanan. Sementara itu, Araqchi menggambarkan mendiang Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai pemimpin bijaksana yang meninggalkan warisan martabat dan hikmah abadi bagi sejarah. Beliau bersumpah bahwa bendera yang telah dikibarkan oleh sang pemimpin tidak akan pernah jatuh dan akan terus dibawa oleh para pengikutnya menuju puncak kemenangan yang lebih tinggi, menegaskan bahwa jalan iman dan harapan ini akan terus hidup meskipun dalam suasana duka yang mendalam.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera