Skip to main content

Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu, 31 Desember 2025, menegaskan kembali posisi strategisnya terkait krisis di Yaman dengan mendesak seluruh pihak untuk memprioritaskan kepentingan rakyat Yaman dan stabilitas keamanan regional. Teheran memperingatkan bahwa setiap tindakan yang memicu instabilitas atau merusak integritas teritorial Yaman tidak dapat diterima. Menurut kementerian tersebut, satu-satunya solusi yang layak adalah melalui dialog komprehensif, implementasi peta jalan yang jelas, dan pembentukan pemerintahan inklusif dalam kerangka kesatuan wilayah Yaman.

Dalam upaya diplomatik lebih lanjut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan telepon dengan mitranya dari Bahrain, Abdul Latif bin Rashid Al Zayani. Dalam percakapan tersebut, Araghchi menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di Yaman selatan dan mendesak negara-negara kawasan untuk bahu-membahu menjaga kedaulatan serta keutuhan wilayah negara tersebut demi menghindari perpecahan yang lebih dalam.

Ketegangan di lapangan memang terus memuncak pada pengujung tahun ini, terutama setelah Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan mobilisasi massa di Shabwa, sebuah wilayah strategis di Yaman tengah-selatan. STC secara terbuka menuntut deklarasi negara selatan yang merdeka, sebuah langkah yang memicu gesekan tajam antara Arab Saudi dan UEA. Riyadh menilai kendali luas STC di wilayah selatan sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan-kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

Di tengah situasi panas ini, dinamika militer juga menunjukkan pergeseran signifikan. Pada 30 Desember, pasukan yang berafiliasi dengan STC dilaporkan menarik diri dari beberapa posisi di distrik Ghayl bin Yamin dan Ghayl bin Wazir, Hadhramaut. Penarikan ini terjadi hanya sehari setelah Kementerian Pertahanan UEA mengumumkan pembubaran sisa-sisa pasukan yang mereka sebut sebagai “unit antiterorisme” di Yaman. Pihak UEA mengeklaim keputusan ini diambil secara mandiri berdasarkan penilaian strategis terbaru dan selaras dengan komitmen mereka terhadap keamanan kawasan, meskipun banyak pihak melihatnya sebagai bagian dari penyesuaian besar-besaran terhadap penempatan militer di tengah persaingan pengaruh dengan Arab Saudi.

Langkah diplomatik Iran pada hari terakhir tahun 2025 ini mencerminkan kekhawatiran bahwa fragmentasi Yaman akan membuka peluang bagi intervensi asing yang lebih dalam dan mengancam keseimbangan kekuatan di Teluk Aden serta Laut Merah. Iran terus mendorong agar penyelesaian konflik tetap berada di tangan bangsa Yaman sendiri melalui jalur politik yang inklusif tanpa adanya tekanan militer dari kekuatan luar.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Press TV