Skip to main content

Sejumlah negara Eropa dan Asia dalam pernyataan bersama pada Selasa menyuarakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza. Para Menteri Luar Negeri dari Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Jepang, Norwegia, Swedia, Swiss, dan Inggris menegaskan bahwa kondisi di Gaza saat ini berada dalam level katastrofik. Mereka mendesak Israel untuk segera mengambil langkah nyata, termasuk mengizinkan organisasi non-pemerintah beroperasi secara berkelanjutan serta menjamin kelangsungan misi PBB di wilayah tersebut.

Pernyataan bersama tersebut juga menuntut Israel untuk mencabut “pembatasan tidak masuk akal” terhadap impor barang-barang esensial, seperti peralatan medis dan perlengkapan tempat berlindung. Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku sejak 11 Oktober 2025, serangan dan pengepungan yang masih berlanjut membuat aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza terhambat, sehingga pembukaan pintu-pintu perlintasan secara maksimal menjadi syarat mutlak untuk meredam krisis.

Di saat yang sama, panggung diplomasi PBB juga memanas terkait manuver luar negeri Israel. Dewan Keamanan PBB, kecuali Amerika Serikat, melontarkan kritik keras terhadap keputusan Israel yang mengakui kemerdekaan wilayah Somaliland. Dalam pertemuan darurat tersebut, 14 dari 15 anggota Dewan Keamanan memperingatkan bahwa langkah ini berisiko menciptakan instabilitas baru di Somalia dan memicu dampak regional yang lebih luas. Sementara itu, Amerika Serikat memilih untuk tidak mengecam keputusan tersebut, meski menyatakan bahwa kebijakan mereka terhadap Somaliland tetap tidak berubah.

Duta Besar Somalia untuk PBB, Abukar Dahir Osman, mendesak dewan untuk menolak apa yang ia sebut sebagai “tindakan agresi” yang mengancam kesatuan wilayahnya. Kekhawatiran serius juga muncul terkait spekulasi bahwa pengakuan Somaliland oleh Israel berkaitan dengan rencana pemindahan penduduk Palestina dari Gaza ke Somalia utara. Hal ini diamini oleh perwakilan Pakistan, Muhammad Usman Iqbal Jadun, yang menyebut isu tersebut sangat meresahkan. Dukungan terhadap kedaulatan Somalia juga datang dari Afrika Selatan, sementara Tiongkok dan Inggris secara tegas menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk dukungan bagi gerakan separatis demi keuntungan geopolitik.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera