Skip to main content

Kementerian Luar Negeri Iran memberikan peringatan keras kepada entitas Zionis bahwa setiap agresi baru akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat dibandingkan sebelumnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers mingguannya pada Senin, 28 Desember 2025, menegaskan bahwa Teheran terus memantau pergerakan musuh dan meningkatkan kesiapannya di lapangan. Ia menyatakan bahwa kemampuan pertahanan serta pengetahuan lapangan Iran saat ini tidak dapat dibandingkan dengan masa lalu, sehingga setiap upaya petualangan militer Israel akan menjadi opsi yang sangat mahal bagi entitas tersebut. Baghaei secara khusus menanggapi isu mengenai rencana Benjamin Netanyahu yang dikabarkan akan mempresentasikan rencana serangan terhadap fasilitas nuklir Iran kepada Donald Trump. Ia menegaskan bahwa hal tersebut hanyalah bagian dari perang psikologis yang tidak akan memengaruhi keputusan Teheran, karena Iran menarik kekuatannya dari dukungan rakyat dan kemampuan pencegahan (deterrence) yang mandiri. Ia memperingatkan bahwa balasan Iran terhadap agresi apa pun akan melebihi skala kerusakan yang terjadi selama “Perang Dua Belas Hari” sebelumnya.

Pernyataan tersebut dipertegas oleh Laksamana Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, melalui pernyataan keras di platform X. Shamkhani menekankan bahwa kemampuan rudal dan pertahanan Iran tidak dapat dibatasi dan tidak memerlukan izin dari pihak mana pun. Dalam doktrin pertahanan Iran, beberapa respons telah ditetapkan bahkan sebelum ancaman tersebut diimplementasikan, guna menjamin bahwa setiap serangan terhadap kedaulatan Iran akan memicu balasan segera dan sangat berat yang berada di luar imajinasi musuh. Di sisi lain, Baghaei juga menyoroti isu sanksi ekonomi yang dijatuhkan pada Iran, dengan melabelinya sebagai “terorisme ekonomi” dan kejahatan terhadap kemanusiaan karena dampaknya yang merampas hak asasi fundamental warga. Meski begitu, Kementerian Luar Negeri tetap mengupayakan pencabutan sanksi melalui kerangka negosiasi yang masuk akal sebagai bagian dari tugas membela kepentingan nasional.

Terkait isu pengakuan Israel terhadap “Somaliland”, Baghaei menyebut tindakan tersebut tidak berdasar karena tidak ada satu pun negara berdaulat yang mengakuinya. Ia menilai langkah Israel sebagai upaya ilegal untuk memecah belah negara-negara Islam dan melanggar kedaulatan wilayah Somalia, sebuah sikap yang sejalan dengan kecaman dari Uni Afrika. Mengenai hubungan dengan Irak dan Amerika Serikat, Teheran mengapresiasi upaya Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani untuk memfasilitasi dialog, namun menekankan bahwa proses negosiasi tidak realistis selama pihak Amerika Serikat tidak menunjukkan etika negosiasi yang tepat.

Baghaei juga turut membantah kabar mengenai penarikan diplomat dari Caracas dan menyebutnya sebagai bagian dari perang psikologis yang sering menargetkan hubungan Iran-Venezuela. Ia memastikan bahwa kerja sama pembangunan di Venezuela tetap berjalan sesuai komitmen. Terakhir, mengenai situasi di Yaman, Teheran kembali menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk menciptakan stabilitas adalah melalui dialog internal “Yaman-Yaman” dengan dasar peta jalan perdamaian yang telah disepakati sebelumnya. Seluruh penegasan ini mengirimkan pesan jelas bahwa Iran siap secara diplomasi, namun jauh lebih siap secara militer untuk menghadapi segala bentuk ancaman.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Shafaq News