Ibu kota Swedia, Stockholm, menjadi saksi aksi demonstrasi besar pada Sabtu, 27 Desember 2025, yang menolak terus berlanjutnya pelanggaran oleh entitas Israel terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza. Ratusan demonstran berkumpul di Alun-alun Odenplan, pusat kota Stockholm, memenuhi seruan berbagai organisasi masyarakat sipil untuk memprotes tentara musuh Israel yang masih menargetkan Jalur Gaza meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berlaku. Para peserta mengibarkan bendera Palestina dan membentangkan spanduk yang mengutuk pembunuhan anak-anak di Gaza serta pengeboman sekolah dan rumah sakit. Mereka menuntut kepatuhan penuh terhadap gencatan senjata, penghentian kelaparan yang kian memburuk, serta mendesak pemerintah Swedia untuk segera menghentikan ekspor dan penjualan senjata ke Israel.
Aksi protes ini terjadi di tengah data memprihatinkan dari Kementerian Kesehatan di Gaza, yang mencatat bahwa tentara musuh Israel telah melakukan ratusan pelanggaran sejak perjanjian gencatan senjata berlaku. Pelanggaran tersebut mengakibatkan gugurnya 414 warga Palestina dan melukai 1.142 lainnya. Perjanjian tersebut sedianya mengakhiri perang genosida yang diluncurkan oleh entitas Israel sejak 8 Oktober 2023 yang berlangsung selama sekitar dua tahun. Perang tersebut telah meninggalkan lebih dari 71.000 syahid dan lebih dari 171.000 luka-luka, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil dengan estimasi biaya rekonstruksi dari PBB mencapai 70 miliar dolar AS.
Sejalan dengan gelombang protes tersebut, Indeks Reputasi Global 2025 mengungkapkan penurunan citra entitas Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya di tingkat internasional. Israel berada di posisi terbawah dalam peringkat global selama dua tahun berturut-turut, mencatat penurunan terbesar sejak indeks ini diluncurkan lebih dari dua puluh tahun lalu. Laporan yang didasarkan pada survei terhadap puluhan ribu partisipan di negara-negara yang mewakili mayoritas penduduk dunia ini mengindikasikan bahwa kritik kini tidak lagi hanya diarahkan pada kebijakan pemerintah, tetapi telah meluas mencakup masyarakat Israel secara keseluruhan sebagai dampak dari perang di Gaza.
Munir al-Ghul, seorang peneliti yang berspesialisasi dalam urusan Israel, menyatakan bahwa Israel mengalami kemerosotan reputasi yang sangat tajam di mana dalam indeks internasional yang mencakup sekitar lima puluh negara, Israel menempati peringkat kedua dari bawah—sebuah posisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan indeks tersebut, Israel mendapat skor buruk dalam sebagian besar kriteria, termasuk tata kelola, citra publik, dan pengalaman sosial, sementara negara-negara seperti Kanada, Jerman, dan Jepang memuncaki peringkat tersebut. Penurunan ini sangat terlihat di kalangan pemuda negara-negara Barat yang menilai Tel Aviv telah menyimpang jauh dari nilai-nilai yang selama ini mereka promosikan.
Analis politik Ahmad al-Safadi menilai bahwa narasi Israel telah runtuh dan kampanye melawan anti-semitisme melemah akibat tindakan pembantaian genosida serta penghancuran rumah di Tepi Barat dan Yerusalem. Hal ini menyebabkan Israel kini terkepung oleh opini negatif pemuda di Eropa bahkan di Amerika Serikat. Penulis laporan indeks tersebut memperingatkan bahwa penurunan reputasi ini telah berubah menjadi kerugian ekonomi langsung, termasuk penurunan investasi, pariwisata, dan ekspor. Di tengah isolasi internasional yang meningkat, Tel Aviv kini menghadapi tantangan besar yang merambah ke stabilitas ekonomi dan kedudukan internasionalnya, memicu pertanyaan besar mengenai kemampuan mereka untuk menghentikan kemerosotan ini.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Middle East Monitor


