Skip to main content

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa isu nuklir hanyalah sebuah preteks atau alasan yang dibuat-buat oleh musuh. Menurutnya, permusuhan terhadap Iran sebenarnya berakar pada karakter Islam negara tersebut, serta kemandirian dan kemajuan yang dicapai Iran meskipun terus ditekan oleh sanksi yang tidak adil. Pernyataan ini disampaikan oleh Kazem Gharibabadi pada Kamis, 25 Desember 2025, di hadapan lebih dari 900 profesor senior di seminari Qom.

Kazem Gharibabadi menjelaskan bahwa pembicaraan dengan pemerintah baru Amerika Serikat dilakukan di tengah ketiadaan rasa percaya yang total. Ia menegaskan bahwa diplomasi dan kesiapan militer berjalan beriringan untuk menghadapi segala kemungkinan tindakan agresif. Ia juga membantah adanya hubungan antara agresi militer baru-baru ini dengan negosiasi nuklir, sembari menunjukkan bahwa penargetan terhadap warga sipil dan infrastruktur selama perang membuktikan bahwa isu nuklir hanyalah dalih bagi musuh untuk menyerang.

Lebih lanjut, Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa entitas Zionis dan Amerika Serikat telah gagal total dalam aksi militer mereka terhadap Iran. Ia mengungkapkan bahwa Iran berhasil memberikan pukulan telak yang memaksa lawan meminta gencatan senjata, termasuk serangan kuat terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan. Menurutnya, konsensus internasional dalam mengutuk agresi tersebut serta pengakuan negara-negara kawasan bahwa Israel adalah ancaman paling berbahaya merupakan pencapaian penting dari Perang Dua Belas Hari. Ia juga memuji langkah-langkah bijaksana yang diambil oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Sayyid Ali Khamenei selama krisis berlangsung.

Di sisi lain, media menyoroti retorika Benjamin Netanyahu yang terus menggunakan ancaman perang terhadap Iran sebagai alat propaganda politik. Meski Israel terus memperkuat persenjataan dengan bom penghancur bunker (bunker-buster) dari Barat, tindakan ini dipandang oleh para analis sebagai taktik lama untuk menutupi krisis internal. Benjamin Netanyahu dituding menggunakan isu ancaman rudal balistik Iran untuk menakut-nakuti publik Israel demi kepentingan pemilu mendatang.

Namun, strategi intimidasi ini justru memicu kepanikan di dalam negeri Israel sendiri. Laporan media termasuk dari saluran televisi internasional menunjukkan adanya aktivitas keberangkatan yang luar biasa di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, yang bertepatan dengan latihan militer Iran. Warga Israel mengungkapkan trauma atas pengalaman selama Perang Dua Belas Hari, di mana mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam di tempat perlindungan karena sirene peringatan rudal. Peneliti urusan Israel, Ahmad al-Safadi, mencatat adanya hubungan langsung antara propaganda perang Benjamin Netanyahu dengan eksodus warga yang merasa tidak aman.

Kondisi politik di Israel juga dilaporkan sedang berada di ambang ketidakpastian. Surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Benjamin Netanyahu dan lingkaran dekatnya tengah bersiap menghadapi kemungkinan pembubaran Knesset dan percepatan pemilu. Kegagalan mencapai kesepakatan mengenai undang-undang wajib militer Haredi serta perselisihan internal di kabinet terkait hak istimewa pemukim ilegal oleh Bezalel Smotrich dan tuntutan eksekusi tahanan oleh Itamar Ben-Gvir semakin memperkeruh situasi. Para ahli memprediksi bahwa Benjamin Netanyahu akan terus berupaya memperpanjang konflik atau memicu eskalasi baru demi mempertahankan posisinya di kursi pemerintahan, meski hal tersebut harus mengorbankan demokrasi dan stabilitas kawasan.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Jerusalem Post