Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa setelah gagal mencapai tujuannya selama Perang Dua Belas Hari, musuh kini beralih menggunakan tekanan ekonomi dan menjatuhkan sanksi. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk merebut apa yang gagal dicapai di medan militer serta menargetkan mata pencaharian rakyat Iran. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Abbas Araqchi pada Kamis malam, 25 Desember 2025, dalam sebuah upacara peringatan mendiang Mr. Ali Akbar Parvaresh di kota Isfahan. Dalam kesempatan itu, ia menekankan perlunya para pejabat untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar Revolusi Islam. Menteri Luar Negeri memuji dedikasi mendiang Ali Akbar Parvaresh dan menggambarkannya sebagai model integritas serta komitmen moral yang teguh, baik sebelum maupun sesudah revolusi, tanpa kompromi.
Abbas Araqchi menekankan bahwa “sekolah perlawanan” merupakan pilar utama kekuatan Iran. Ia menjelaskan bahwa kepatuhan terhadap kebanggaan dan martabat adalah faktor penentu dalam menghadapi berbagai tantangan, di mana budaya ini telah menjadi diskursus yang berpengaruh di tingkat regional. Menurutnya, bangsa yang memegang teguh martabatnya adalah bangsa yang menang, dan rahasia kemenangan rakyat Iran berakar pada budaya perlawanan yang tidak boleh diganggu gugat atau diperlemah. Ia juga menunjukkan bahwa sekolah perlawanan telah menjadi kekuatan aktif di kawasan, dengan menyebut Syahid Jenderal Qassem Soleimani sebagai simbol paling menonjol dari pendekatan ini. Syahid Jenderal Qassem Soleimani dinilai berhasil menyampaikan ideologi perlawanan ke jantung kawasan dan mengubahnya menjadi kenyataan nyata di lapangan.
Berbicara mengenai peristiwa Perang Dua Belas Hari, Abbas Araqchi mengatakan bahwa musuh memasuki perang tersebut dengan salah perhitungan. Mereka berhalusinasi bahwa rakyat Iran akan menyerah dalam satu atau dua hari akibat ketidakpuasan populer. Namun, kenyataannya rakyat Iran justru turun ke jalan untuk membela tanah air dan martabat mereka. Ia menambahkan bahwa pesan dari pihak lawan mulai berdatangan sejak hari-hari pertama perang untuk meminta negosiasi. Pihak Amerika Serikat bahkan mengirim pesan langsung yang menuntut penghentian permusuhan pada pukul 04.00 pagi, bertepatan dengan berhentinya operasi Israel. Abbas Araqchi menyatakan bahwa kegagalan militer musuh membuat mereka kini beralih ke perang ekonomi, yang menuntut kewaspadaan dan semangat perlawanan yang berkelanjutan. Ia menyebutkan bahwa kehadiran publik yang besar di lapangan serta kepemimpinan yang bijaksana dari Pemimpin Besar Revolusi Islam selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Sayyid Ali Khamenei telah membalikkan keadaan.
Selain itu, keberanian para pejuang dan peluncuran rudal-rudal kekuatan menjadi jaminan bagi kemerdekaan negara, hingga akhirnya Amerika Serikat terpaksa menerima gencatan senjata tanpa syarat pada hari kedua belas. Dalam bagian lain pidatonya, Abbas Araqchi yang juga anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menekankan status tinggi Profesor Ali Akbar Parvaresh dalam sejarah Revolusi Islam sebagai sosok yang asketis dan pendidik generasi revolusi. Ia menegaskan bahwa kementeriannya berkomitmen untuk membela hak-hak rakyat Iran di forum internasional, dengan dukungan dari lebih dari 120 negara dan organisasi internasional yang mengutuk agresi musuh.
Pada Kamis pagi, saat bertemu dengan para pelaku ekonomi di provinsi Isfahan, Abbas Araqchi juga menyampaikan ucapan selamat atas datangnya bulan Rajab dan hari kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib as, serta ucapan selamat kepada umat Kristiani, khususnya warga Armenia di Isfahan, atas kelahiran Yesus Kristus. Terkait tugas Kementerian Luar Negeri, ia menjelaskan bahwa pencabutan sanksi adalah prioritas tetap dengan tetap menjaga martabat dan kepentingan nasional. Ia mengkritik upaya media yang membesar-besarkan “trigger mechanism” untuk menyebarkan ketakutan psikologis pada ekonomi. Abbas Araqchi menekankan pentingnya diplomasi ekonomi yang terjun langsung ke lapangan untuk membantu pengusaha Iran di luar negeri, seperti keberhasilan mendukung perusahaan swasta Iran memenangkan tender senilai 600 juta dolar AS di tingkat regional. Ia juga menyoroti perlunya membangkitkan kembali ekspor karpet Iran sebagai duta budaya yang mengalami penurunan tajam, serta menegaskan bahwa diplomasi ekonomi akan menjadi alat utama dalam melayani kepentingan bangsa.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV



