Skip to main content

Duta Besar dan Wakil Tetap Republik Islam Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeed Iravani, mengecam keras agresi militer Israel terhadap kota Beit Jinn di Suriah. Ia menegaskan bahwa tindakan Israel merupakan bagian dari strategi sistematis untuk memperkuat pendudukan, memecah belah Suriah, dan melemahkan persatuan nasional negara itu dengan mengeksploitasi perbedaan etnis dan sektarian serta mendukung agenda separatis.

Dalam pernyataannya pada Kamis, 18 Desember 2025, dalam sidang Dewan Keamanan PBB yang membahas situasi Suriah. Iravani menyampaikan harapannya agar kunjungan delegasi Dewan Keamanan ke Suriah dan Lebanon—yang diprakarsai oleh Aljazair, Denmark, dan Slovenia—menghasilkan langkah nyata, terutama dalam menekan Israel agar menghentikan pendudukan dan segera mengakhiri tindakan ilegalnya.

Iravani menyatakan bahwa satu tahun telah berlalu sejak pembentukan Pemerintahan Sementara Suriah. Meski Damaskus telah mengambil sejumlah langkah transisi penting, rakyat Suriah masih menghadapi kesulitan serius di bidang sosial, kemanusiaan, ekonomi, dan keamanan. Ia memperingatkan bahwa keberadaan kelompok bersenjata di luar kendali negara, disertai kekerasan sewenang-wenang terhadap warga sipil dan pelanggaran hak minoritas, merupakan ancaman nyata bagi perdamaian dan stabilitas nasional.

Ia juga menyoroti peristiwa tragis yang terjadi sepanjang tahun lalu di wilayah pesisir Suriah dan Provinsi Suwaida, yang menurutnya menegaskan urgensi pemulihan penuh otoritas negara, penegakan supremasi hukum, serta pencegahan eksploitasi perpecahan sektarian untuk tujuan kekerasan. Dalam konteks ini, Iran mencatat langkah pemerintah Suriah membentuk mekanisme nasional untuk menyelidiki insiden tersebut dan mengadili para pelakunya.

Terkait ancaman keamanan, Iravani menegaskan bahwa kebangkitan kembali kelompok teroris ISIS tetap menjadi bahaya serius bagi Suriah dan kawasan. Serangan-serangan terbaru menunjukkan bahwa ancaman terorisme bersifat berkelanjutan dan mengakar. Iran, katanya, mengecam terorisme dalam segala bentuknya dan menegaskan bahwa perang melawan terorisme harus dilakukan secara menyeluruh, tidak selektif, dan sepenuhnya menghormati kedaulatan serta keutuhan wilayah Suriah.

Meski terdapat perkembangan positif di lapangan—termasuk kembalinya lebih dari satu juta pengungsi dan hampir dua juta pengungsi internal, pelonggaran sebagian sanksi, serta peningkatan akses bantuan kemanusiaan—Iravani menilai situasi Suriah masih sangat rapuh. Dalam setahun terakhir, Israel justru meningkatkan penggunaan kekuatan secara ilegal, memperluas kehadiran militernya, dan menjalankan kebijakan yang bertujuan menormalisasi pendudukan wilayah Suriah.

Iran secara khusus mengecam serangan Israel terhadap Beit Jinn pada 28 November 2025, yang menewaskan 13 warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—melukai puluhan lainnya, serta memaksa penduduk mengungsi akibat pengeboman brutal terhadap permukiman. Serangan tersebut, sebagaimana disampaikan dalam surat resmi perwakilan Suriah kepada Sekjen PBB dan Ketua Dewan Keamanan, dikategorikan sebagai kejahatan perang serius menurut hukum internasional.

Iravani menegaskan bahwa tindakan Israel bukanlah pembelaan diri atau insiden kebetulan, melainkan bagian dari strategi terencana untuk memperkuat pendudukan, memecah Suriah, dan merusak kohesi nasional. Ia memperingatkan bahwa Dewan Keamanan tidak boleh tinggal diam. Menurutnya, seruan kosong soal kedaulatan Suriah tanpa langkah konkret hanya akan melegitimasi pendudukan dan membuat resolusi PBB kehilangan makna.

Ia menambahkan bahwa sejak dimulainya proses transisi politik di Suriah, Iran secara konsisten mendukung kedaulatan, persatuan, dan keutuhan wilayah negara tersebut. Sebagai negara tetangga, Iran memandang stabilitas Suriah sebagai kunci perdamaian dan keamanan kawasan.

Iravani menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa penyelesaian krisis Suriah mensyaratkan penghentian segera agresi dan pendudukan Israel, upaya serius dan tidak selektif memerangi terorisme, perlindungan hak-hak minoritas, serta pembentukan proses politik inklusif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Suriah. Iran, katanya, akan terus mendukung Suriah yang merdeka, stabil, dan berdaulat, serta reintegrasinya ke dalam komunitas internasional.

Sementara itu, di lapangan, wilayah pedesaan Quneitra menyaksikan eskalasi bertahap oleh pasukan pendudukan Israel melalui serangkaian penetrasi militer, pendirian pos pemeriksaan sementara, dan penguatan posisi maju. Langkah ini dipandang sebagai upaya mengubah aturan keterlibatan dan menciptakan realitas keamanan baru di luar zona penyangga.

Di sisi lain, Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran di Suriah tengah dengan dalih menargetkan ISIS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan dimulainya Operasi Hawkeye Strike sebagai respons atas serangan terhadap pasukan AS di Palmyra pada 13 Desember. Pentagon sebelumnya mengonfirmasi tewasnya dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil dalam operasi tersebut.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Anadolu Agency