Sedikitnya satu warga Palestina gugur dan satu lainnya terluka akibat berlanjutnya agresi Israel di Jalur Gaza, yang terjadi di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa data tersebut didasarkan pada catatan resmi rumah sakit.
Kementerian juga menegaskan bahwa banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan atau tergeletak di jalan-jalan, sementara tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka akibat rusaknya infrastruktur, jalan yang hancur, serta terus berlangsungnya serangan.
Menurut Kementerian Kesehatan, sejak 11 Oktober 2025, Israel telah melakukan sedikitnya 394 pelanggaran gencatan senjata, yang mengakibatkan 1.075 orang terluka serta ditemukannya 634 jenazah. Dengan demikian, total korban akibat agresi Israel yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 kini mencapai 70.668 orang gugur dan 171.152 orang terluka.
Di tengah agresi yang terus berlangsung, kondisi cuaca ekstrem memperburuk situasi kemanusiaan. Ketiadaan infrastruktur yang layak menyebabkan runtuhnya sebuah rumah yang menewaskan pemiliknya, Mahdi Mohammed al-Helou. Musim dingin yang mematikan ini telah merenggut sedikitnya 12 nyawa, di mana 11 orang gugur akibat runtuhnya bangunan di sekitar mereka, sementara satu orang meninggal karena kedinginan ekstrem.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Khalil al-Daqran, memperingatkan bahwa sektor kesehatan di Gaza berada dalam tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak gencatan senjata diumumkan. Dalam keterangannya kepada Kantor Berita Sanad, ia mengatakan rumah sakit kini kewalahan akibat lonjakan besar pasien, terutama anak-anak.
Al-Daqran menjelaskan bahwa terjadi peningkatan tajam penyakit menular, khususnya infeksi pernapasan dan gangguan pencernaan di kalangan anak-anak. Jumlah pasien yang membutuhkan perawatan kini melampaui kapasitas rumah sakit hingga empat kali lipat, semakin memperparah krisis kemanusiaan yang sudah sangat berat.
Pertahanan Sipil Gaza juga memperingatkan bahwa badai musim dingin telah secara drastis memperburuk kondisi di Jalur Gaza, memicu runtuhnya bangunan, banjir besar-besaran, dan meningkatnya korban sipil. Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Rabu, lembaga tersebut menyebutkan bahwa sedikitnya 17 bangunan tempat tinggal telah runtuh total sejak gelombang cuaca buruk melanda, sementara lebih dari 90 bangunan lainnya mengalami kerusakan parah dan berisiko roboh, mengancam ribuan warga.
Pertahanan Sipil menambahkan bahwa hampir 90 persen pusat pengungsian di Gaza terendam banjir sepenuhnya, sementara seluruh tenda pengungsi rusak atau tergenang air, membuat ribuan keluarga kehilangan tempat berlindung sementara.
Sejak badai dimulai, tim Pertahanan Sipil menerima lebih dari 5.000 panggilan darurat. Lembaga tersebut mengonfirmasi bahwa sedikitnya 17 orang meninggal dunia, termasuk empat anak yang tewas akibat kedinginan ekstrem, sementara korban lainnya meninggal akibat runtuhnya bangunan.
Otoritas kesehatan juga membunyikan alarm terkait meningkatnya angka kematian akibat paparan dingin dan penyakit. Pada Selasa, Kementerian Kesehatan mengumumkan wafatnya bayi berusia dua minggu, Mohammed Khalil Abu al-Khair, yang meninggal akibat hipotermia parah.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah anak lainnya juga dilaporkan meninggal dunia, di antaranya Rahaf Abu Jazar, bayi berusia delapan bulan yang meninggal setelah tenda keluarganya terendam banjir di Khan Younis; Taym al-Khawaja, bayi berusia beberapa bulan yang meninggal karena kedinginan ekstrem di kamp pengungsi Shati, sebelah barat Kota Gaza; serta Hadeel al-Masri, bocah perempuan berusia sembilan tahun yang meninggal akibat cuaca dingin saat berlindung di sebuah sekolah yang dijadikan pusat pengungsian di Kota Gaza.
Di sisi lain, rumah sakit terus beroperasi dengan kapasitas tempat tidur hingga empat kali lipat dari kemampuan normal, seiring melonjaknya kasus infeksi pernapasan dan gangguan pencernaan, terutama di kalangan anak-anak, akibat memburuknya kondisi musim dingin.
Peringatan ini muncul di tengah runtuhnya sistem kemanusiaan secara menyeluruh, yang dipicu oleh pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang, diperparah oleh blokade dan pembatasan ketat terhadap bantuan kemanusiaan. Rata-rata harian truk bantuan yang masuk ke Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan hanya mencapai 234 truk, jauh di bawah janji 600 truk per hari, atau sekitar 39 persen dari jumlah yang disepakati.
Pembatasan terhadap material tempat tinggal juga sangat parah. Gaza membutuhkan sekitar 300.000 tenda baru, namun hanya 20.000 yang disetujui, dan hanya 15.600 yang benar-benar masuk. Jumlah tersebut hanya cukup untuk menampung sekitar 88.000 orang, sementara lebih dari 1,29 juta warga Palestina yang mengungsi masih tanpa perlindungan yang layak.
Selain itu, sejak gencatan senjata mulai berlaku, Israel tercatat telah melakukan lebih dari 760 pelanggaran, termasuk pembunuhan, invasi militer, dan serangan terhadap infrastruktur sipil. Pelanggaran-pelanggaran tersebut menyebabkan 385 warga sipil gugur, termasuk 137 anak-anak, serta 991 orang terluka, dengan puluhan warga tewas secara langsung akibat pelanggaran gencatan senjata.
Pertahanan Sipil Gaza kembali menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi, menegaskan bahwa tenda-tenda pengungsian sama sekali tidak memadai, serta mendesak dimulainya upaya rekonstruksi segera dan penyediaan tempat tinggal yang aman dan bermartabat guna melindungi nyawa warga sipil.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



