Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memasuki fase yang lebih berbahaya seiring datangnya gelombang cuaca ekstrem yang disertai hujan deras dan angin kencang. Kondisi ini menyebabkan ribuan tenda pengungsi terendam banjir dan roboh, memperparah penderitaan ratusan ribu warga Palestina yang telah terusir dari rumah mereka akibat perang pemusnahan Israel yang berlangsung lebih dari dua tahun.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk dengan datangnya depresi cuaca baru yang membanjiri tenda-tenda para pengungsi, yang pada dasarnya tidak memiliki perlindungan minimum dari hujan dan dingin. Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Senin malam, Qassem menegaskan bahwa kondisi para pengungsi kini berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar tenda yang digunakan warga Palestina dalam pengungsian berada dalam kondisi rusak dan rapuh, tidak mampu melindungi dari air hujan maupun suhu dingin yang ekstrem, sehingga memperparah penderitaan harian, terutama bagi anak-anak, lansia, dan orang sakit.
Qassem menekankan bahwa berbagai peringatan dan seruan sebelumnya terkait perlunya memasukkan bahan tempat tinggal darurat yang layak serta memulai proses rekonstruksi hingga kini tidak mendapatkan respons nyata dari pihak-pihak terkait. Ia menyalahkan komunitas internasional atas ketidakmampuannya mematahkan blokade Israel yang mencekik Jalur Gaza, yang menurutnya secara langsung berkontribusi pada pendalaman krisis kemanusiaan yang terus memburuk.
Ia menyerukan kepada para mediator, negara-negara penjamin perjanjian gencatan senjata, Liga Arab, serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) agar segera mengambil langkah-langkah mendesak dan bertanggung jawab untuk menyelamatkan penduduk Jalur Gaza dari bencana kemanusiaan yang mengancam, serta menghentikan sikap bungkam internasional terhadap penderitaan warga sipil.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Jalur Gaza dilanda banjir besar yang menggenangi ratusan tenda pengungsi. Kondisi ini memaksa keluarga-keluarga Palestina bertahan dalam keadaan tragis, di tengah keterbatasan parah dan kurangnya peralatan yang dimiliki tim pertahanan sipil untuk merespons keadaan darurat.
Pejabat di Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa hujan lebat yang melanda wilayah tersebut telah membanjiri tenda-tenda yang menampung keluarga-keluarga yang terusir akibat perang Israel, serta menyebabkan kematian seorang bayi akibat paparan suhu dingin yang ekstrem.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza mengumumkan bahwa sedikitnya 12 orang gugur atau masih dinyatakan hilang akibat badai tersebut, sedikitnya 13 bangunan runtuh, dan sekitar 27.000 tenda pengungsi terendam banjir.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, menyatakan bahwa timnya telah memulai pencarian jenazah para syuhada yang masih tertimbun di bawah reruntuhan rumah-rumah di Kota Gaza dengan menggunakan peralatan sederhana. Ia menjelaskan bahwa hingga kini pihak pendudukan Israel masih melarang masuknya alat berat yang diperlukan untuk mengangkat puing-puing bangunan.
Basal mendesak badan-badan internasional penjamin untuk segera turun tangan dan menyediakan peralatan yang diperlukan, guna memastikan evakuasi jenazah para korban dari bawah reruntuhan, serta mencegah semakin banyak korban jiwa.
Di tengah kondisi ini, pasukan pendudukan Israel terus melakukan pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza. Pelanggaran tersebut telah mengakibatkan 391 warga Palestina gugur dan 1.063 lainnya terluka sejak Oktober lalu.
Babak baru penderitaan manusia pun terus terbuka di Jalur Gaza yang terkepung, dialami oleh masyarakat yang bahkan belum sempat pulih dari perang brutal dan menghancurkan yang menargetkan mereka secara sistematis. Angin kencang dan hujan deras merobek tenda-tenda pengungsi, mengubah tempat perlindungan yang rapuh menjadi kubangan lumpur, dan meninggalkan keluarga-keluarga tanpa perlindungan dari dingin, kelaparan, serta ketiadaan tempat tinggal yang aman.
Bencana kemanusiaan yang kompleks dan mendalam ini mendorong pemerintah Gaza untuk menegaskan bahwa pendudukan Israel memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas kehancuran ratusan ribu rumah Palestina, yang diperparah oleh blokade ketat yang terus diberlakukan terhadap Jalur Gaza.
Hamas menegaskan bahwa warga Palestina di Gaza kini menghadapi bencana kemanusiaan yang kian parah akibat cuaca ekstrem dan dampak perang, dengan tenda-tenda dan tempat perlindungan yang terendam sepenuhnya. Dalam konteks ini, Hamas mengungkapkan bahwa penyeberangan Rafah masih ditutup sepenuhnya, sementara pendudukan terus mencegah perjalanan kasus-kasus kemanusiaan dan menghambat masuknya bantuan.
Hazem Qassem menambahkan bahwa jumlah pasokan tempat tinggal darurat yang diizinkan masuk sangat tidak mencukupi, dan bahwa pendudukan hanya mengizinkan masuk kurang dari 10 persen dari jumlah bahan bakar yang telah disepakati. Ia memperingatkan kemungkinan jatuhnya korban tambahan, terutama di kalangan anak-anak, lansia, dan orang sakit, akibat banjir dan suhu dingin.
Qassem menilai kondisi saat ini sebagai kelanjutan dari perang pemusnahan terhadap Jalur Gaza, di tengah ketidakberdayaan komunitas internasional untuk menghentikan blokade dan agresi yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Palestina, Ahed Fayeq Bseiso, mengungkapkan bahwa perang Israel telah menghancurkan sekitar 352.000 unit hunian dan merusak hampir 90 persen infrastruktur sipil di Jalur Gaza. Ia menjelaskan bahwa proses rekonstruksi menghadapi hambatan besar akibat kehancuran infrastruktur yang meluas serta larangan masuknya bahan bangunan dan alat berat, yang sangat dibutuhkan untuk mengangkat sekitar 60 juta ton puing-puing yang menutupi wilayah tersebut.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Al Jazeera



