Skip to main content

Pemimpin gerakan Ansar Allah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi, memperingatkan bahwa umat Islam saat ini menghadapi ancaman serius berupa perang lunak yang menargetkan identitas keimanan mereka. Peringatan itu ia sampaikan pada peringatan kelahiran Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW, yang juga diperingati sebagai Hari Perempuan Muslim Internasional.

Dalam pernyataannya, al-Houthi menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Islam, terutama kepada perempuan Muslim di seluruh dunia, mengingatkan bahwa Fatimah az-Zahra adalah teladan iman, akhlak, dan keteguhan spiritual yang harus dicontoh. Ia menekankan bahwa peringatan ini mengenang sosok putri kesayangan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai Sayyidatun Nisa’ al-‘Alamin, pemimpin seluruh perempuan dunia, serta teladan bagi seluruh perempuan mukmin dalam segala zaman.

Al-Houthi menegaskan bahwa perang lunak yang saat ini berlangsung lebih berbahaya dibanding perang fisik karena menyesatkan pikiran, merusak nilai-nilai moral, dan mencabut identitas keimanan umat Islam. Ia menilai bahwa akibat perang ini, umat Islam mengalami kebingungan, perpecahan, rasa malu, serta ketundukan terhadap musuh. Banyak negara Muslim telah kehilangan kemandirian, sehingga kekayaan, tanah, dan sumber daya manusia dieksploitasi oleh kekuatan luar, bahkan sebagian rezim Arab memberikan dukungan ekonomi, media, dan intelijen kepada Israel di tengah agresinya terhadap rakyat Palestina.

Ia menyoroti kejahatan yang menimpa rakyat Palestina, mulai dari pembunuhan bayi prematur, kekerasan terhadap perempuan, penghancuran rumah, hingga pelanggaran martabat manusia. Menurutnya, sikap pasif sebagian besar umat Islam terhadap kejahatan ini menunjukkan ketidakmampuan mereka menghadapi perang lunak, sementara masyarakat di belahan dunia lain justru turun ke jalan untuk mengecam tindakan Israel.

Al-Houthi juga mengkritik rezim yang tunduk pada Amerika Serikat dan Israel, menerima dominasi musuh, serta menafsirkan “perdamaian” sebagai bentuk penyerahan diri. Ia menegaskan bahwa tunduk pada Israel berarti kehilangan kehormatan, kebebasan, dan hak atas wilayah Muslim, serta menyerahkan kekayaan dan nilai-nilai kemanusiaan umat.

Mengaitkan momentum kelahiran Fatimah az-Zahra, al-Houthi menyerukan agar umat Islam kembali menghidupkan kesadaran Islam, memperbaiki pemahaman yang diselewengkan, menyingkirkan kebingungan moral, dan membangkitkan identitas yang tergerus oleh perang lunak. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an dan ajaran Nabi adalah cahaya tertinggi yang menuntun manusia menuju kesempurnaan. Fatimah az-Zahra adalah teladan utama perempuan Muslim dalam hal spiritualitas, keteguhan iman, dan martabat, yang dapat dijadikan inspirasi bagi umat Islam dalam menegakkan keadilan, membela yang lemah, melawan tirani, dan kembali memainkan peran sebagai pembawa risalah kebenaran.

Di akhir pernyataannya, al-Houthi menekankan keyakinannya penuh kepada Tuhan: “Cukuplah Allah bagi kami, Dia sebaik-baik Pelindung, Penolong, dan Pengatur urusan.”

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Press TV