Skip to main content

Al-Mayadeen melaporkan pada Minggu, 7 Desember 2025, bahwa agresi Israel terhadap Lebanon kembali meningkat, setelah sebuah helikopter tempur Israel menjatuhkan bom yang menargetkan kota Adaysseh di selatan Lebanon. Dalam waktu yang hampir bersamaan, pasukan pendudukan melepaskan tembakan senapan mesin dari pos militer “Al-Jardah” ke arah kota Al-Dhahira, menambah daftar panjang pelanggaran yang dilakukan Israel sejak diterbitkannya Declaration of Cessation of Hostilities pada 27 November 2024 yang ditengahi Amerika Serikat dan Prancis, serta Resolusi Dewan Keamanan 1701 tahun 2006.

Serangan berulang ini berlangsung ketika UNIFIL menegaskan bahwa tidak ada bukti bahwa Hizbullah sedang membangun kembali atau memperkuat posisinya di wilayah selatan Sungai Litani. Kepala misi dan Komandan UNIFIL, Mayor Jenderal Diodato Abagnara, dalam wawancara dengan Channel 12 Israel menegaskan bahwa pasukannya “tidak memiliki bukti apa pun bahwa Hizbullah melakukan rehabilitasi militer di selatan Litani,” dan bahwa mandat UNIFIL tidak mencakup perlucutan senjata kelompok tersebut. “Kami tidak memiliki mandat untuk melucuti Hizbullah. Tugas kami adalah membantu tentara Lebanon,” ujarnya.

Dalam pernyataan yang tegas, Abagnara menambahkan bahwa justru Israel yang “secara terang-terangan dan terus-menerus melanggar perjanjian gencatan senjata,” sambil memperingatkan bahwa “kesalahan kecil saja dapat memicu eskalasi besar,” mengingat ritme serangan Israel yang hampir terjadi setiap hari. Ia menekankan bahwa UNIFIL memiliki kewajiban untuk melaporkan setiap pelanggaran tersebut kepada PBB.

Lebanon terus menjadi sasaran agresi Israel, mulai dari serangan udara, tembakan artileri, penghancuran lahan pertanian, hingga penerbangan drone yang hampir tidak pernah meninggalkan langit Lebanon. Data resmi UNIFIL menunjukkan lebih dari 10.000 pelanggaran Israel sejak penandatanganan kesepakatan penghentian permusuhan, menegaskan bahwa agresi tersebut berlangsung secara sistematis.

Serangan terbaru pada 7 Desember 2025 kembali memperlihatkan bahwa Israel terus mendorong situasi menuju titik didih, bahkan ketika peringatan internasional terkait risiko eskalasi besar di front Lebanon terus disampaikan. Sementara itu, Lebanon dan UNIFIL menegaskan bahwa stabilitas tidak mungkin tercapai selama Israel melanjutkan pelanggaran terorganisir terhadap kedaulatan Lebanon dan hukum internasional.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: SSBCrack News