Skip to main content

Pada Rabu, 3 Desember 2025, Israel kembali melanggar perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dengan menyerang Gaza City di bagian tengah, serta Khan Younis dan Rafah di bagian selatan.

Koresponden Al-Mayadeen melaporkan pada malam hari bahwa pasukan pendudukan menembakkan tembakan berat ke lingkungan Shuja’iyya di timur Gaza City, sementara artileri Israel menggempur area sekitar Jalan Salah al-Din.

Sebuah drone quadcopter Israel turut menjatuhkan bom di persimpangan Shuja’iyya, disertai pelemparan bom suara di ruang udara kawasan tersebut.

Di bagian selatan Jalur Gaza, koresponden Al-Mayadeen melaporkan terjadinya ledakan besar di wilayah selatan Khan Younis. Artileri Israel juga menargetkan kawasan timur Rafah.

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza menyampaikan dalam laporan statistik hariannya bahwa lima orang gugur — empat di antaranya korban baru, satu lainnya jenazah yang berhasil ditemukan — serta tiga belas orang luka-luka tiba di rumah sakit dalam empat puluh delapan jam terakhir.

Total korban gugur sejak gencatan senjata diumumkan telah mencapai tiga ratus enam puluh orang, dengan tambahan sembilan ratus dua puluh dua orang terluka, serta enam ratus tujuh belas jenazah yang berhasil ditemukan. Dengan demikian, total korban gugur dan luka sejak dimulainya agresi Israel pada 7 Oktober 2023 kini mencapai tujuh puluh ribu seratus tujuh belas orang.

Gencatan senjata di Gaza mulai berlaku pada 11 Oktober, namun Israel terus melanggarnya, menambah jumlah korban dan memperketat pembatasan masuknya bantuan ke wilayah tersebut.

Koresponden Al-Mayadeen di Jalur Gaza juga melaporkan pada Rabu bahwa lima orang, termasuk dua anak, gugur akibat serangan Israel terhadap kota Khan Younis di selatan Gaza. Ia menjelaskan bahwa pesawat Israel membombardir tenda-tenda pengungsi di dekat Rumah Sakit Kuwait di Mawasi Khan Younis, menimbulkan korban jiwa dan luka.

Tentara Israel sebelumnya mengumumkan bahwa serangan di Khan Younis dilakukan sebagai respon terhadap luka yang dialami lima tentaranya dalam bentrokan di Rafah. Namun, perlu ditekankan bahwa pendudukan Israel telah terus-menerus melanggar gencatan senjata sejak perjanjian itu diumumkan Oktober lalu.

Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, dalam pernyataan yang ditujukan “kepada seluruh dunia,” mengatakan bahwa mereka yang gugur dalam pembantaian di Mawasi Khan Younis bukan berada di zona pertempuran, melainkan di kamp pengungsian di area yang diberi label aman. Ia bertanya dengan nada marah: berapa banyak lagi pembantaian harus terjadi agar dunia memahami bahwa apa yang berlangsung di Gaza bukan reaksi atas suatu kejadian, melainkan penargetan sistematis dan pembunuhan langsung terhadap warga sipil. Ia menegaskan bahwa pembantaian tersebut bukan kejadian terpencil, melainkan babak baru dari bencana kemanusiaan yang terus berlanjut.

Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa agresi brutal dan pemboman biadab terhadap tenda-tenda pengungsi di dekat Rumah Sakit Kuwait, serta gugurnya warga termasuk anak-anak, adalah kejahatan perang yang jelas dan bentuk pengabaian terhadap perjanjian gencatan senjata. Hamas menuntut para mediator dan negara-negara penjamin untuk menahan Israel dari melanjutkan kejahatannya, serta tidak membiarkan Benjamin Netanyahu dan pemerintahnya menghindar dari kewajiban perjanjian, termasuk penghentian serangan terhadap warga sipil, area pemukiman, dan tenda-tenda pengungsi.

Serangan berulang Israel di Jalur Gaza telah menyebabkan lebih dari seribu dua ratus korban jiwa dan luka sejak 11 Oktober, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Media Israel melaporkan bahwa lima tentara dari Brigade Golani terluka dalam baku tembak di Rafah, setelah sejumlah pejuang Palestina muncul dari sebuah terowongan dan menyerang pasukan Israel menggunakan tembakan senjata dan rudal antitank. Channel 12 Israel menggambarkan kejadian tersebut sebagai “peristiwa luar biasa” karena ukuran dan intensitas bentrokan itu. Media Israel menyebut bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Yisrael Katz langsung mendapat pengarahan pasca-insiden dan akan menggelar evaluasi keamanan.

Sementara itu, faksi-faksi dan kelompok politik Palestina menyerukan para mediator dan negara-negara penjamin untuk membuka kembali penyeberangan Rafah di selatan Gaza ke dua arah. Dalam pernyataan mereka, ditegaskan perlunya memberi tekanan kepada Israel agar melaksanakan ketentuan dalam Kesepakatan Sharm el-Sheikh dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, serta mencegah Israel memanipulasi atau mengabaikan kewajibannya, termasuk upaya membatasi pembukaan penyeberangan hanya satu arah sebagaimana diberitakan sejumlah sumber Zionis. Mereka juga menekankan perlunya memaksa Israel untuk mematuhi komponen gencatan senjata.

Sebelumnya, kantor Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah (COGAT) mengumumkan bahwa penyeberangan Rafah akan segera dibuka untuk keberangkatan warga Gaza menuju Mesir, sesuai ketentuan gencatan senjata dan arahan tingkat politik. Mereka menyatakan bahwa proses keberangkatan akan dilakukan melalui koordinasi dengan Mesir dan dengan pengawasan misi Uni Eropa, setelah mendapat persetujuan keamanan Israel.

Mesir pada hari yang sama membantah telah mencapai kesepakatan dengan Israel untuk membuka Rafah hanya satu arah bagi warga Gaza yang hendak keluar dari wilayah tersebut.

Sejak Mei 2024, Israel telah menduduki sisi Palestina dari penyeberangan Rafah, menghancurkan dan membakar bangunannya, serta mencegah perjalanan warga Palestina. Hal ini menjerumuskan penduduk, terutama para pasien, ke dalam krisis kemanusiaan besar. Penyeberangan tersebut seharusnya dibuka kembali pada Oktober lalu sebagai bagian dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata, namun otoritas pendudukan tidak pernah mematuhinya.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera