Dalam Konferensi Internasional “Hak-Hak Rakyat dan Kebebasan yang Sah dalam Sistem Pemikiran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei” di Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa hak-hak rakyat dan kebebasan yang sah harus diwujudkan secara nyata. Ia menyatakan bahwa dari perspektif Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, kebebasan merupakan hak ilahi bagi rakyat sekaligus tanggung jawab besar yang dipikul pemerintah. Rakyat, menurutnya, bukan hanya pemilik hak, tetapi juga aktor utama dalam proses realisasi kebebasan tersebut di tengah masyarakat.
Berpidato pada Rabu malam, Pezeshkian menyampaikan harapan bahwa pemerintah mampu “secara benar menjalankan hak-hak rakyat dan mewujudkan kebebasan yang sah dalam kehidupan sosial.” Ia menjelaskan bahwa Ayatullah Khamenei melihat kebebasan bukan sebagai konsep absolut, melainkan sebagai kebebasan yang dibatasi oleh ketentuan syariah. Dalam kerangka ini, rakyat bukan hanya pihak yang memiliki hak, tetapi menjadi pusat dalam proses perwujudannya.
Pezeshkian menambahkan bahwa dalam pandangan Pemimpin Revolusi tentang kebebasan ekonomi, rakyat tidak hanya berhak melakukan aktivitas ekonomi, tetapi juga memikul tanggung jawab sosial untuk memenuhi kebutuhan umum masyarakat. Ia menguraikan bahwa kebebasan menurut Ayatullah Khamenei bertumpu pada pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Tuhan, baik dalam dimensi lahir maupun batin, serta selalu berkaitan dengan tanggung jawab, ketakwaan, dan komitmen moral.
Menurut Pezeshkian, kebebasan dalam pandangan Islam berbeda dari kebebasan dalam peradaban Barat. Dalam Islam, batas-batas kebebasan tidak hanya terletak pada norma sosial dan hukum, tetapi juga pada dimensi internal manusia. Seseorang dapat terbelenggu oleh hawa nafsu dan kelemahan batin yang justru menjerumuskannya kepada bentuk perbudakan eksternal. Karena itu, konsep ketakwaan dan penyucian diri menjadi elemen penting dalam membangun masyarakat yang bebas. Ia menegaskan bahwa suatu bangsa yang bebas dari sifat-sifat negatif internal tidak akan tunduk pada kekuatan-kekuatan eksternal yang ingin menundukkannya.
Ia menjelaskan pula bahwa Islam memandang tindakan seperti bunuh diri, menyakiti diri sendiri, tunduk pada kezaliman, pasrah pada penghinaan, serta mengabaikan potensi manusia sebagai bentuk pengingkaran terhadap kebebasan itu sendiri. Kebebasan bukan hanya tidak mengancam masyarakat dan hak orang lain, tetapi juga tidak boleh merusak kepentingan diri pribadi. Dalam waktu yang sama, Islam melarang praktik memata-matai, menginvestigasi secara tidak sah, dan membuka aib sesama.
Dalam pembahasannya mengenai hubungan antara penguasa dan rakyat, Pezeshkian mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan surat Imam Ali kepada Malik al-Asytar. Ia menegaskan bahwa nilai tertinggi dalam pandangan Allah adalah ketakwaan, dan ketakwaan berarti bertindak tanpa kesalahan, sesuai dengan posisi dan tanggung jawab yang diemban seseorang. Ia menekankan bahwa seorang pejabat wajib memperlakukan rakyat dengan kasih sayang dan kelembutan, dan tidak boleh menyimpang dari keadilan, sebab “barang siapa tidak bersikap adil kepada rakyat, maka ia sedang berperang melawan Tuhan.”
Pezeshkian mengingatkan bahwa rakyat Iran telah menunaikan kewajiban mereka dalam berbagai tahapan sejarah—sebelum revolusi, selama revolusi, masa perang, dan setelahnya. Karena itu, pemerintah berkewajiban membuka ruang partisipasi politik yang lebih besar serta memahami penderitaan, kekhawatiran, dan problem kehidupan rakyat. Ia menegaskan bahwa konflik antara rakyat dan pemerintah muncul ketika batas hak dilanggar, ketika pejabat mengabaikan hak pihak lain, atau ketika seseorang menempatkan dirinya di atas orang lain. Bila dasar hubungan adalah hak dan kewajiban timbal balik, katanya, konflik tidak akan muncul.
Ia menambahkan bahwa apabila negara-negara Muslim bertindak berdasarkan prinsip persaudaraan, cinta, dan solidaritas, maka rezim Israel yang kecil jumlahnya tidak akan mampu menimbulkan malapetaka besar bagi umat Islam. Ia menegaskan kembali pendapatnya bahwa jika negara-negara Islam menjalin hubungan atas dasar persaudaraan dan kasih sayang, entitas pendudukan Israel “tidak akan berani membombardir umat Muslim setiap hari.”
Konferensi internasional tersebut diselenggarakan bertepatan dengan peringatan pengesahan Konstitusi Iran dan menghadirkan para ilmuwan, akademisi, serta pemikir dari berbagai negara Islam. Forum ini mendapat sambutan luas dari lima benua, dengan lebih dari 850 makalah yang dikirimkan para penulis, sebagaimana disampaikan juru bicara Dewan Garda, Hadi Tahan Nazif. Ia menjelaskan bahwa dalam konstitusi Iran terdapat satu bab khusus yang fokus pada hak-hak dan kebebasan rakyat, dan forum tersebut bertujuan memperjelas pemikiran Ayatullah Khamenei sebagai model yang dapat dijadikan rujukan.
Para peserta forum menilai bahwa isu hak asasi manusia di dunia masih diliputi standar ganda, terutama oleh negara-negara Barat, dan mencontohkan apa yang terjadi di Jalur Gaza serta berbagai bentuk tekanan terhadap Iran sejak Revolusi Islam sebagai bukti nyata. Ketua Majelis Penasihat Organisasi-Organisasi Islam di Malaysia, Mohammed Azmi Abdul Hamid, menyatakan bahwa Iran menunjukkan kemajuan dalam isu hak asasi manusia, sementara negara-negara Barat justru mempraktikkan standar ganda yang terlihat jelas dalam kebijakan mereka.
Para anggota Majelis Ahli menegaskan bahwa kepemilikan energi nuklir damai dan kemampuan rudal merupakan hak yang tidak dapat dicabut dari rakyat Iran. Ayatullah Abbas Kaabi menegaskan bahwa rakyat Iran telah berjuang keras untuk hak tersebut dan apa yang diraih dari upaya para ilmuwan, termasuk mereka yang syahid, tidak akan pernah diserahkan kepada pihak mana pun.
Dalam kesempatan itu, dua belas jilid buku mengenai hak-hak rakyat dan kebebasan yang sah diluncurkan, di samping pemberian penghargaan kepada artikel-artikel terbaik. Pezeshkian menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa lebih dari empat dekade setelah Revolusi Islam, pendekatan yang tetap konsisten dari pemerintah dan kepemimpinan Iran adalah menjaga dan menjamin hak serta kebebasan sah rakyat sebagai landasan bagi kekuatan dan ketahanan masyarakat.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Tehran Times



