Skip to main content

Menteri Luar Negeri dari sembilan negara—termasuk Indonesia, Brasil, Bangladesh, Kolombia, Spanyol, Yordania, Libya, Pakistan, dan Turki—mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras serangan militer Israel terhadap konvoi kemanusiaan “Global Resilience Flotilla” yang sedang berlayar menuju Jalur Gaza. Para menteri luar negeri tersebut menyatakan keprihatinan mendalam atas keselamatan dan keamanan para peserta sipil yang berada di dalam kapal, sekaligus mendesak pembebasan segera bagi seluruh aktivis kemanusiaan yang ditahan serta penyeruan agar hak-hak mereka dihormati sepenuhnya.

Dalam dokumen pernyataan tersebut, para diplomat menegaskan bahwa tindakan penyergapan yang dilakukan oleh militer Israel merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional. Mereka menilai bahwa agresi yang menyasar inisiatif kemanusiaan mencerminkan sikap abai yang terus berulang dari pihak Israel terhadap tatanan hukum global. Oleh karena itu, sembilan menteri luar negeri tersebut menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera mengambil tanggung jawab hukum dan moral guna menghentikan impunitas tersebut.

Pasukan pendudukan Israel melakukan pencegatan dan penyerangan terhadap kapal-kapal yang tergabung dalam konvoi “Global Freedom Flotilla” saat berada di perairan internasional. Operasi pembajakan tersebut diluncurkan ketika armada sipil ini berupaya menembus blokade laut yang telah lama mengisolasi Jalur Gaza. Serangan prematur yang terjadi di lepas pantai Siprus tersebut berakhir dengan penangkapan serta penahanan sejumlah peserta, relawan kemanusiaan, termasuk beberapa jurnalis internasional yang sedang bertugas meliput misi tersebut.

Armada kemanusiaan sipil ini dilaporkan telah bertolak sejak Kamis pekan lalu dari kota pelabuhan Marmaris, Turki, di kawasan Laut Mediterania. Misi pelayaran internasional ini melibatkan sedikitnya 54 kapal yang mengangkut bantuan logistik medis dan pangan, serta diikuti oleh ratusan aktivis, profesional medis, dan pendukung kemanusiaan yang berasal dari 70 negara di seluruh dunia.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Saba