Skip to main content

Wakil Kepala Dewan Politik Hizbullah di Lebanon, Mahmoud Qamati, menegaskan bahwa serangan Israel yang menghantam wilayah selatan Beirut merupakan respons langsung terhadap seluruh konsesi yang menurutnya telah diberikan negara Lebanon dalam berbagai inisiatif politik terakhir. Ia menyebut serangan itu sebagai agresi besar yang melintasi garis merah, memperluas lingkup pelanggaran baik secara geografis, politik, maupun militer.

Qamati menggambarkan serangan yang menewaskan komandan Hizbullah Abu Ali al-Tabatabai dan sejumlah rekannya itu sebagai pesan api yang ditujukan kepada negara, rakyat, dan perlawanan, serta bagian dari upaya Israel untuk memaksakan “persamaan pelanggaran total” terhadap Lebanon. Ia mengatakan Hizbullah sedang mendorong terbentuknya persamaan kekuatan yang disepakati bersama negara dan Tentara Lebanon, karena setiap langkah sepihak dari Hizbullah akan dituduh sebagai tindakan pelanggaran yang memicu respons Israel. Menurutnya, Hizbullah sampai saat ini tetap menahan diri dari langkah unilateral agar tidak mengganggu upaya negara dalam pembebasan wilayah dan tahanan.

Namun Qamati menyatakan bahwa negara Lebanon hingga kini gagal memenuhi kewajibannya. Ia menilai pemerintah bersikap lalai dan meremehkan agresi Israel, bahkan tidak mengeluarkan kecaman resmi meski serangan terjadi di ibu kota dan menimpa warga sipil, termasuk seorang kepala sekolah dan sejumlah pegawai pemerintahan lokal. Ia mempertanyakan bagaimana negara dapat diharapkan memberi perlindungan jika bahkan sikap moral dasar seperti kecaman pun tidak muncul. Ia menegaskan bahwa hasil dari semua inisiatif, komitmen terhadap Resolusi 1701, serta mediasi Arab dan internasional adalah “nol”.

Qamati menyampaikan bahwa Hizbullah belum sepenuhnya kehilangan harapan terhadap negara, tetapi harapan itu mengecil seiring tidak adanya hasil konkrit. Ia mengatakan negara masih mencoba bertumpu pada dukungan internasional, sementara Hizbullah menunggu apa yang dapat dicapai pemerintah sebelum mengambil keputusan akhir. Ia menegaskan bahwa apabila agresi meluas, Hizbullah akan merespons langsung tanpa perlu berkonsultasi dengan siapa pun karena hal itu merupakan kewajiban moral dan nasional. Untuk eskalasi besar seperti pembunuhan al-Tabatabai dan serangan di Dahieh, ia mengatakan seluruh opsi kini terbuka dan sedang dipelajari.

Terkait aspek keamanan, Qamati menepis adanya kebocoran informasi dari sisi manusia, menyebut bahwa 90 persen pembunuhan terhadap kader Hizbullah setelah perang sebelumnya dilakukan berdasarkan kecerdasan buatan. Ia mengatakan bahwa mayoritas operasi Israel belakangan ini menunjukkan kekacauan intelijen dan serangan yang didasarkan pada data lama, termasuk penandaan rumah yang sebenarnya sudah hancur. Namun ia mengakui bahwa serangan terbaru menunjukkan Israel masih memiliki tingkat akurasi tertentu yang perlu dipelajari, dan karena itu Hizbullah telah menutup sejumlah celah keamanan tetapi tetap membutuhkan langkah tambahan.

Qamati menegaskan bahwa Hizbullah mengadopsi kebijakan kerahasiaan dalam urusan keamanan dan militer serta keterbukaan dalam politik. Ia mengatakan agresi terbaru semakin mendorong kelompok itu untuk mempertahankan ambiguitas dalam isu-isu sensitif. Ia menjelaskan bahwa Hizbullah kini bergerak dalam dua batas: mempertahankan kohesi internal Lebanon dan menghadapi setiap agresi baru terhadap negara. Dalam kerangka itu, mereka menjalankan apa yang ia sebut sebagai “kesabaran strategis”, tetapi memperingatkan bahwa lanjutan pelanggaran Israel, dorongan Amerika, dan ketidakmampuan Prancis serta inisiatif Arab yang tidak efektif membuat situasi bergerak menuju kemungkinan eskalasi baru. Karena itu, Hizbullah menurutnya tidak lagi dapat sepenuhnya mengandalkan negara untuk mencapai pembebasan.

Qamati menolak tekanan internasional yang meminta Hizbullah menyerahkan senjatanya, menyebutnya sebagai tipu daya besar yang pernah dijanjikan kepada pihak lain seperti Suriah, tetapi tidak pernah menghasilkan keamanan. Ia mengatakan senjata Hizbullah bukan hanya untuk mencegah serangan terbatas, tetapi merupakan pertahanan eksistensial untuk mencegah pendudukan, genosida, pengusiran warga selatan, dan bahkan skenario penghapusan Lebanon dari peta. Ia menegaskan bahwa Hizbullah siap menghadapi segala bentuk agresi, termasuk upaya pendudukan awal maupun penuh.

Ia juga menilai bahwa jalur negosiasi tidak lagi menjanjikan, menyebut perundingan pascaperang yang menghasilkan komitmen pada Resolusi 1701 sebagai contoh bagaimana Lebanon telah memenuhi kewajibannya tetapi Israel tidak. Menurutnya, Israel bahkan tidak menghormati negara Lebanon dan tidak menanggapi inisiatifnya, sementara dukungan Amerika terhadap posisi Israel semakin menutup peluang hasil diplomatik. “Negosiasi adalah nol, tidak ada hasil sama sekali,” pungkas Qamati.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Politico