Skip to main content

Pada Minggu, 23 November 2025, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menegaskan bahwa resolusi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang dianggap anti-Iran “bertentangan dengan prosedur dan praktik kelembagaan yang telah mapan”.

Baghaei menambahkan bahwa sikap Amerika Serikat dalam proses negosiasi “tidak menunjukkan keseriusan” dan tidak mencerminkan norma diplomatik yang seharusnya didasarkan pada prinsip kesetaraan dalam bernegosiasi.

Dalam bagian berbeda dari pernyataannya, Baghaei kembali menyoroti situasi Palestina dengan menyebut bahwa “genosida di wilayah Palestina yang diduduki masih terus berlangsung”. Ia menuduh entitas pendudukan Israel terus melakukan “kejahatan paling keji terhadap rakyat Palestina”.

Ia juga menekankan bahwa negara-negara yang menjadi penjamin perjanjian gencatan senjata di Palestina “memikul tanggung jawab atas pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan entitas musuh Israel.”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengumumkan pembatalan resmi Kesepakatan Kairo dengan IAEA. Araqchi mengatakan bahwa Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, telah diberi tahu melalui surat resmi bahwa kesepahaman tersebut “tidak lagi berlaku dan telah dihentikan secara resmi”.

Dalam pernyataan yang ia sampaikan pada Kamis lalu, Araqchi menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut pada dasarnya sudah “batal secara praktik” setelah langkah tiga negara Eropa di Dewan Keamanan untuk memberlakukan kembali resolusi yang sebelumnya dibatalkan terhadap Iran. Namun, menurutnya, pembatalan tersebut kini telah diumumkan secara formal melalui pemberitahuan tertulis.

Menanggapi resolusi IAEA yang diajukan oleh tiga negara Eropa bersama Washington, Araqchi menuduh pihak-pihak tersebut “mengabaikan itikad baik Iran, merusak kredibilitas dan independensi badan internasional itu, serta mengganggu jalannya kerja sama teknis antara Iran dan IAEA.”

Mengenai pembicaraan tidak langsung di Muscat dengan Amerika Serikat, Araqchi menyatakan bahwa “solusi yang dapat diterima telah tercapai sebanyak tiga kali”, namun utusan Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Wittkopf, disebut gagal meyakinkan para pengambil keputusan di Washington.

Sebelumnya, Dewan Gubernur IAEA resmi melakukan pemungutan suara terhadap draf resolusi Eropa terkait program nuklir Iran. Hasil pemungutan suara menunjukkan 19 negara mendukung, 3 menolak, dan 12 abstain.

Resolusi tersebut mewajibkan Iran untuk segera memberi informasi kepada IAEA mengenai status persediaan uranium yang diperkaya, serta mengenai kondisi fasilitas nuklir yang dibom dalam serangan gabungan Israel-Amerika pada Juni lalu.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Press TV