Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengecam keras pembunuhan dua anak Palestina oleh pasukan pendudukan Israel di kota Beit Ummar, utara Hebron, pada Kamis, 13 November 2025. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut kebijakan sistematis penjajah Israel yang menargetkan anak-anak dan pemuda di Tepi Barat sebagai “kejahatan keji dari pemerintahan fasis yang dibangun di atas pembunuhan dan terorisme.”
Menurut sumber lokal, tentara Israel melepaskan tembakan langsung ke arah dua anak di bagian selatan Beit Ummar, kemudian menyita jenazah mereka dan menutup wilayah tersebut sebagai zona militer tertutup.
Hamas menegaskan bahwa upaya Israel untuk menakut-nakuti warga Tepi Barat melalui pembunuhan terencana “akan gagal dan hanya menambah keteguhan rakyat, memperkuat kehendak perlawanan, dan membangkitkan kemarahan di hati orang-orang merdeka.” Gerakan itu menyeru warga Tepi Barat — khususnya di Hebron — untuk meningkatkan aksi perlawanan, membalas darah para syuhada, dan menghadapi kelompok pemukim bersenjata.
Selain eskalasi di Tepi Barat, Hamas juga memperingatkan bencana kemanusiaan besar di Gaza akibat badai musim dingin yang mengubah kamp-kamp pengungsian menjadi kubangan lumpur dan merobohkan tenda-tenda tipis yang tak mampu menahan hujan dan dingin.
Dalam pernyataan resmi, Hamas menyebut kondisi tersebut sebagai “adegan bencana yang diciptakan oleh pendudukan Zionis,” menegaskan bahwa setiap penundaan dalam intervensi internasional akan memperburuk krisis dan mendorong Gaza ke tahap yang lebih berbahaya. Ribuan keluarga kini kehilangan tempat berlindung, sementara Israel terus mencegah masuknya bantuan, tenda, dan hunian darurat.
Hamas menyerukan para penjamin gencatan senjata, termasuk PBB, Liga Arab, dan OKI, untuk segera bertindak mengirim bantuan medis, pangan, dan perlindungan bagi para pengungsi. Gerakan itu juga meminta eskalasi dukungan publik dan resmi untuk menjaga ketahanan rakyat Gaza.
Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Wittkopf, berencana bertemu pemimpin Hamas di Gaza dan kepala delegasi negosiasi Palestina, Khalil al-Hayya, dalam waktu dekat. Pertemuan ini bertujuan menjaga saluran komunikasi langsung antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan Hamas, setelah bertahun-tahun AS menggunakan mediator seperti Mesir, Qatar, dan Turki.
Meski belum ada tanggal pasti, sumber yang dikutip NYT menyebut pertemuan tersebut akan membahas komitmen terhadap gencatan senjata di Gaza. Ini akan menjadi pertemuan kedua setelah diskusi sebelumnya di Mesir menjelang penandatanganan gencatan senjata pada 9 Oktober, yang juga dihadiri penasihat Trump, Jared Kushner.
Dilansir dari berbagai sumber.
Sumber gambar: ABNA



