Skip to main content

Pemimpin Gerakan Ansar Allah Yaman, Sayyid Abdul-Malik Badr al-Din al-Houthi, menegaskan bahwa Amerika Serikat sendiri mengakui telah membunuh hampir tiga juta orang dalam dua dekade terakhir — sebagian besar berasal dari dunia Islam — dan menekankan bahwa Washington, yang disebut sebagai “penjamin”, merupakan mitra dalam kejahatan Israel di Gaza.

Dalam pidato langsung memperingati Hari Syahid dan membahas perkembangan terkini, al-Houthi mengatakan, “Tragedi besar telah menimpa umat sepanjang sejarah, mulai dari masa kolonial hingga saat ini, di mana umat telah kehilangan banyak syuhada tanpa berperang dan tanpa mengambil sikap.”

Ia menambahkan, “Amerika mengakui bahwa selama 20 tahun terakhir mereka telah membunuh hampir tiga juta orang, sebagian besar dari umat ini — dan mereka melakukannya tanpa otoritas atau legitimasi apa pun.”

Al-Houthi menegaskan bahwa kelompok-kelompok takfiri dan kekuatan lain telah diarahkan oleh Amerika dan Israel untuk memusuhi sesama umat Islam. “Kaum zalim dan tiran beroperasi dengan tujuan setan dan praktik kriminal, sebagaimana dilakukan Amerika, Israel, dan sekutu-sekutunya,” ujarnya.

Menurutnya, kelemahan dan keterpecahan umat Islam selama berabad-abad telah membuat mereka menjadi sasaran empuk bagi musuh. “Kita adalah umat yang menjadi target, suka atau tidak suka. Tidak ada yang dapat melindungi kita kecuali berjihad di jalan Allah,” katanya.

Al-Houthi menegaskan bahwa musuh paling berbahaya bagi umat Islam saat ini adalah kaum Yahudi Zionis, “yang berupaya memusnahkan, menyesatkan, memperbudak, dan menodai umat ini.” Ia menambahkan bahwa kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina selama lebih dari tujuh dekade sudah cukup membuktikan bahwa entitas Zionis adalah musuh yang “jahat dan kriminal.”

Ia menolak narasi bahwa perlawanan Palestina memprovokasi Zionis. “Apa yang dilakukan rakyat Palestina hingga orang-orang Yahudi datang dari seluruh penjuru dunia untuk menduduki tanah mereka? Tidak ada,” katanya, menekankan bahwa agresi Israel berakar dari ideologi yang “kejam dan tiranik.”

Al-Houthi mengecam berlanjutnya pelanggaran Israel di Gaza meski telah ada kesepakatan gencatan senjata. Ia menuduh Amerika, sebagai penjamin perjanjian tersebut, “secara langsung bersekongkol dalam kejahatan terhadap warga Gaza,” sementara pihak lain “berdiam diri dan tak mampu berbuat apa-apa.”

Ia menjelaskan bahwa bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza hanya sebagian kecil dari jumlah yang dijanjikan, sementara Israel terus menutup perlintasan Rafah, menahan evakuasi korban luka, dan melanjutkan pemboman terhadap permukiman serta penyiksaan terhadap tahanan Palestina. “Lebih dari 80 tahanan Palestina telah gugur di penjara akibat perlakuan kejam,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyoroti pelanggaran Israel di Lebanon. “Pasukan UNIFIL mencatat lebih dari 9.400 pelanggaran oleh musuh Israel,” ujarnya, seraya mengkritik pihak-pihak di Lebanon yang menuntut perlucutan senjata Hizbullah. “Mereka lupa bahwa Hizbullah justru yang melindungi Lebanon.”

Al-Houthi menegaskan bahwa Amerika Serikat, bersama Jerman, Italia, dan Inggris, adalah pemasok utama senjata bagi Israel dalam agresinya terhadap Gaza. “Sebanyak 26 negara lain juga ikut mengirimkan senjata kepada musuh,” katanya.

Ia mengecam negara-negara Arab yang tetap melanjutkan hubungan dagang dengan Israel selama perang berlangsung, serta mengingatkan peran Inggris dan Barat dalam mendirikan entitas Zionis melalui Deklarasi Balfour. “Deklarasi Balfour adalah bukti kelalaian dan ketidakberdayaan dunia Arab dan Islam,” tegasnya.

Menurutnya, opini publik global kini mulai berubah. “Di Amerika, Eropa, dan berbagai belahan dunia, nurani manusia telah tergerak untuk mendukung rakyat Palestina,” katanya. Namun, ia menyesalkan bahwa sebagian negara Arab “tetap tenggelam dalam ketidaktahuan atau bahkan semakin tunduk pada musuh.”

Al-Houthi juga memperingatkan adanya upaya besar untuk mendiskreditkan kekuatan-kekuatan perlawanan yang mendukung Gaza. “Sejak gencatan senjata diumumkan, kelompok pro-Amerika dan pro-Israel melancarkan kampanye fitnah intensif terhadap mereka yang berdiri di pihak Palestina,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Iran telah menjadi sasaran fitnah karena sikap tegasnya terhadap Amerika dan dukungannya kepada rakyat Palestina. “Hanya orang-orang munafik, jahat, dan pengecut yang berdiri di pihak Israel dan menentang mereka yang melawannya,” katanya.

Menutup pidatonya, al-Houthi menegaskan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi konfrontasi berikutnya dengan musuh. “Bangsa kita telah menunjukkan keteguhan luar biasa, berdiri bersama rakyat Palestina menghadapi genosida Israel, dan keluar dari babak ini lebih kuat dari sebelumnya. Tidak akan ada keamanan atau perdamaian di kawasan ini selama Israel tetap menjajah Palestina dan menjalankan proyek Zionisnya,” tegasnya.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Press TV