Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qassem, menegaskan bahwa Republik Islam Iran merupakan permata dunia yang akan terus melangkah maju dan memiliki kemampuan penuh untuk mengalahkan Amerika Serikat serta entitas Israel. Dalam pidatonya pada peringatan peluncuran Yayasan Islam untuk Pendidikan dan Pelatihan pada Rabu, 4 Februari 2026, beliau menyatakan bahwa kemenangan tersebut akan dicapai dengan bersandar pada keteguhan, kapabilitas militer, serta kehendak kuat rakyatnya. Syekh Naim Qassem menekankan bahwa janji kemenangan tetap nyata meskipun harus menghadapi berbagai musibah dan kesulitan, karena tantangan saat ini tidak akan menggoyahkan arah konfrontasi maupun keteguhan poros perlawanan. Beliau juga menyampaikan selamat atas peringatan hari kemenangan Revolusi Islam kepada seluruh rakyat, kepemimpinan, dan para pekerja di Iran, sembari mencatat pentingnya peran Iran dalam mendukung kemajuan serta isu-isu krusial di kawasan.
Syekh Naim Qassem menyoroti bahwa Lebanon saat ini tengah menghadapi hegemoni Amerika Serikat yang melampaui batas-batas dunia. Beliau melontarkan pertanyaan tajam mengenai apakah Lebanon akan mencegah hegemoni tersebut atau justru menyerah dan melepaskan tanah serta kedaulatannya. Beliau menegaskan bahwa poros perlawanan bergerak di atas tanah milik mereka sendiri berdasarkan hak untuk melawan agresi eksistensial yang berupaya melenyapkan keberadaan mereka. Terkait serangan Israel di Kfar Tebnit dan Ain Qana, Syekh Naim Qassem menjelaskan bahwa tindakan tersebut bertujuan untuk merusak lingkungan lokal dan memaksa rakyat menyerah. Oleh karena itu, beliau menyerukan agar perlawanan terus dilakukan dengan segala kemampuan pertahanan yang ada tanpa pernah melepaskan prinsip penolakan terhadap musuh.
Beliau memperingatkan bahwa target agresi Israel tidak hanya menyasar partai, sekte, atau wilayah tertentu, melainkan mengancam seluruh rakyat Lebanon. Syekh Naim Qassem melontarkan kritik keras terhadap pihak-pihak di dalam negeri yang mendukung musuh dengan dalih apa pun, dengan menyatakan bahwa siapa pun yang membela Amerika Serikat dan Israel di atas penderitaan rakyatnya sendiri berarti telah bertindak mengkhianati posisi nasionalnya. Beliau menekankan bahwa dialog untuk membalas agresi merupakan urusan nasional yang komprehensif, dan segala upaya untuk memfasilitasi musuh di dalam negeri harus ditolak mentah-mentah agar pengalaman pahit serta memalukan di masa lalu tidak terulang kembali.
Menurut Sekretaris Jenderal Hizbullah ini, Lebanon tidak lagi memiliki kewajiban untuk melakukan apa pun selain menekan Amerika Serikat dan Israel agar melaksanakan perjanjian serta menghentikan agresi. Beliau meminta para pejabat Lebanon untuk menyatakan posisi mereka secara jelas dan tidak memberikan tekanan kepada rakyatnya sendiri yang telah memberikan banyak pengorbanan. Beliau menegaskan bahwa pengalaman perlawanan selama 42 tahun telah membuktikan kemampuan untuk membebaskan wilayah yang diduduki. Kehadiran rakyat, perlawanan, Gerakan Amal, kekuatan nasional, serta angkatan bersenjata Lebanon merupakan aset nasional yang mampu meraih pencapaian besar melalui kesabaran dan koordinasi yang kuat.
Syekh Naim Qassem juga memuji peran pemimpin para syuhada bangsa sebagai simbol pengorbanan global. Beliau menyatakan bahwa keyakinan Hizbullah sebagai partai bentukan Imam Mahdi (Afs) memberikan kekuatan spiritual untuk terus bertahan dan menang melawan musuh. Terkait urusan internal, beliau menegaskan komitmen Hizbullah dalam membangun negara, termasuk peran aktif mereka dalam pemilihan presiden dan pembentukan pemerintahan. Meskipun menteri-menteri dari Hizbullah bekerja untuk kepentingan seluruh Lebanon, beliau menyayangkan adanya beberapa menteri yang justru mencoba menyeret negara ke dalam perselisihan dan kegelapan dengan menjadikan pemerintahan sebagai alat politik.
Di akhir pidatonya, Syekh Naim Qassem menyerukan kepada para deputi dan pendukung setia untuk menyetujui anggaran negara guna menghindari keruntuhan ekonomi. Beliau menyindir pihak-pihak yang mengklaim memperjuangkan kedaulatan namun justru berada di bawah bimbingan Amerika Serikat dan enggan mengutuk Israel demi persatuan nasional. Beliau menegaskan dukungan terhadap pelaksanaan pemilihan umum di bawah undang-undang yang berlaku dan mendesak partai-partai internal untuk mengubah arah politik mereka demi kepentingan bangsa dan kedaulatan. Terdapat empat isu nasional utama yang ditekankan sebagai tolok ukur patriotisme saat ini: penghentian agresi, penarikan pasukan musuh, pembebasan tawanan, serta rekonstruksi wilayah yang hancur.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Press TV


