Skip to main content

Kantor Media Pemerintah di Gaza menuduh pasukan pendudukan Israel menyebarkan narasi menyesatkan dengan memublikasikan nama dan foto sejumlah individu yang sebenarnya masih hidup, namun diklaim telah tewas dalam serangan di Gaza pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Dalam pernyataannya, kantor tersebut menyebut daftar yang dipublikasikan Israel mencakup nama-nama orang yang tewas di waktu dan lokasi yang sama sekali berbeda dari yang diumumkan. Hal ini, menurut mereka, jelas menunjukkan bahwa publikasi daftar itu merupakan bagian dari kampanye disinformasi media yang disengaja, dengan tujuan membenarkan kejahatan pendudukan dan mendemonisasi para korban.

Kantor Media Pemerintah membantah daftar yang berisi 6 nama dan 21 foto yang diklaim Israel sebagai “korban yang terbunuh selama agresi brutal 24 jam terakhir”. Hasil penyelidikan, kata mereka, “menunjukkan bahwa empat dari individu yang disebut dalam daftar tersebut tidak tewas, bahkan tidak berada di area sasaran, dan masih hidup.”

“Beberapa nama juga digandakan dengan sedikit perubahan untuk menampilkan mereka seolah-olah individu yang berbeda. Daftar itu juga mencakup nama-nama orang yang tewas di waktu dan tempat yang sama sekali tidak terkait,” demikian pernyataan resmi kantor tersebut. “Hal ini membuktikan bahwa publikasi daftar itu merupakan bagian dari kampanye disinformasi terencana untuk membenarkan kejahatan pendudukan dan mencemarkan nama para korban.”

Kantor Media Pemerintah mengecam keras praktik kriminal sistematis yang menggabungkan disinformasi media dengan pembunuhan massal di lapangan, dan menyatakan bahwa pendudukan Israel beserta negara-negara yang terlibat dalam kejahatan genosida harus bertanggung jawab penuh atas berlanjutnya serangan berdarah di Jalur Gaza.

Dalam laporan yang sama, kantor tersebut mengungkap bahwa dalam 12 jam terakhir saja — dari Selasa malam hingga Rabu pagi, 29 Oktober 2025 — pasukan Israel membunuh 109 warga Palestina, termasuk 52 anak-anak, 23 perempuan, empat lansia, dan tujuh penyandang disabilitas. Data ini, menurut mereka, menjadi bukti bahwa pembunuhan massal telah menjadi kebijakan yang disengaja, bukan insiden terpisah.

Pada Selasa, 28 Oktober 2025, pasukan Israel secara sengaja melanggar gencatan senjata dan melancarkan serangan di seluruh wilayah Jalur Gaza, sebelum kemudian pada Rabu pagi mengumumkan kembali diberlakukannya gencatan tersebut. Namun, meskipun deklarasi gencatan telah diperbarui, pesawat tempur Israel tetap melanjutkan pemboman di berbagai wilayah, terutama di bagian utara Gaza.

Kantor Media Pemerintah menyerukan kepada Presiden AS Donald Trump, para penjamin kesepakatan gencatan Gaza, para mediator, serta Dewan Keamanan PBB untuk “menunaikan tanggung jawab hukum dan moral mereka dengan memaksa pendudukan Israel mematuhi perjanjian gencatan senjata, segera menghentikan perang di Gaza, melindungi warga sipil, dan mengakhiri kejahatan yang terus dilakukan terhadap rakyat Palestina.”

Di Kota Gaza, pesawat tempur Israel menargetkan rumah tinggal di Distrik al-Sabra, menewaskan empat warga Palestina, termasuk seorang anak dan seorang bayi, serta melukai sembilan orang lainnya. Dalam serangan terpisah di dekat kawasan Yarmouk, tiga warga Palestina lainnya, termasuk seorang anak, juga tewas.

Di Beit Lahia, Gaza utara, tiga warga Palestina tewas dan beberapa lainnya luka-luka setelah serangan udara Israel menghantam sekolah yang menampung pengungsi Palestina. Dalam serangan lain, sebuah tenda di kamp Nuseirat juga dibom, menewaskan satu warga Palestina dan melukai beberapa lainnya.

Sumber lokal mengonfirmasi bahwa 18 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas dalam pembantaian di kamp pengungsi Nuseirat setelah rumah yang menjadi sasaran dibom, sementara sejumlah korban lainnya masih diyakini tertimbun di bawah reruntuhan.

Di kamp pengungsi al-Bureij, juga di Gaza tengah, pesawat tempur Israel menargetkan bangunan tempat tinggal dan menewaskan seorang anak perempuan. Di Deir al-Balah, serangan udara Israel menghantam tenda pengungsian di kamp Insan, menewaskan lima warga Palestina, termasuk anak-anak.

Di Khan Younis, Gaza selatan, pesawat dan drone Israel menyerang tenda-tenda pengungsian di wilayah al-Mawasi, menyebabkan sejumlah korban luka. Serangan lain di Distrik al-Amal menewaskan seorang pria dan seorang anak.

Dalam serangan terpisah, lima warga Palestina tewas setelah kendaraan mereka menjadi sasaran serangan udara di jalan umum kota tersebut.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency