Serangan Berlanjut di Tengah Gencatan Senjata
Pasukan pendudukan Israel melanjutkan pengeboman di berbagai wilayah Jalur Gaza meski telah diumumkan secara resmi kesepakatan gencatan senjata yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang dan menghentikan agresi.
Menurut koresponden Al Mayadeen, genosida Israel selama dua tahun terakhir telah menghancurkan hampir 80% wilayah Gaza, meninggalkan ribuan warga sipil dan jurnalis dengan nasib yang belum diketahui di tengah runtuhnya infrastruktur dan terhambatnya tim penyelamat mencapai area terdampak paling parah.
Pesawat tempur pendudukan masih terus terbang di atas Gaza dan melancarkan serangan udara. Kantor Media Pemerintah menyerukan warga untuk tetap waspada dan menahan diri dari bepergian, menekankan agar menunggu pengumuman resmi dari otoritas Palestina sebelum merasa aman sepenuhnya.
Warga diminta tidak melintas di Jalan al-Rashid dan Salah al-Din hingga situasi lapangan benar-benar jelas, sembari menunggu pelaksanaan penuh kesepakatan dan penghentian total pengeboman.
Pembantaian Baru di Kota Gaza
Namun, di tengah penantian implementasi perjanjian, pasukan pendudukan kembali melakukan pembantaian baru pada Kamis malam, 9 Oktober 2025, menargetkan sebuah gedung tempat tinggal di barat Kota Gaza dan menghancurkannya sepenuhnya. Serangan itu menewaskan empat warga Palestina dan melukai sembilan lainnya, sementara tim penyelamat masih mencari puluhan korban yang tertimbun reruntuhan.
Menurut laporan Al Mayadeen, serangan udara itu terjadi hanya beberapa jam sebelum kabinet Israel dijadwalkan bertemu untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata Gaza. Pesawat tempur Israel membombardir rumah keluarga Ghabbon di lingkungan al-Sabra, menyebabkan bangunan runtuh total di atas penghuninya.
Juru bicara Pertahanan Sipil, Mahmoud Basal, mengatakan bahwa tim penyelamat bekerja selama berjam-jam di lokasi dalam kondisi “sangat sulit dan berbahaya” akibat serangan udara dan artileri yang terus berlanjut serta kurangnya peralatan berat untuk mengangkat puing-puing.
Gerakan Hamas mengecam serangan tersebut sebagai “pembantaian brutal baru” yang menewaskan dan melukai lebih dari 70 warga sipil, sebagian besar masih terjebak di bawah reruntuhan. Hamas menegaskan bahwa serangan ini bertujuan menebar kekacauan dan menggagalkan implementasi perjanjian gencatan senjata.
Serangan udara Israel juga dilaporkan berlanjut di sejumlah wilayah Gaza barat daya, sementara artileri Israel menembaki bagian utara Kamp Pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah. Dalam insiden terpisah, seorang perempuan mengalami luka bakar serius akibat bom penerangan Israel yang menghantam tendanya di daerah al-Mawasi, barat laut Khan Younis.
Operasi Perlawanan dan Kerugian Israel
Sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam, mengumumkan telah melakukan serangan ke pos militer al-Ahwad di selatan lingkungan Tel al-Hawa pada Rabu, 8 Oktober, menargetkan tentara dan kendaraan pendudukan serta mencoba menangkap seorang serdadu Israel.
Dalam keterangannya, al-Qassam menyebut pejuangnya menembakkan peluru anti-tank Yassin 105 dan Tandem ke arah dua tank Merkava. Mereka juga mengonfirmasi bahwa helikopter evakuasi musuh mendarat selama lebih dari satu jam untuk mengevakuasi korban.
Sebelumnya, media Israel melaporkan dua tentaranya terluka akibat ledakan di Gaza utara, sementara Brigade al-Quds — sayap militer Jihad Islam Palestina — menembaki pasukan pendudukan dengan mortir di sekitar bukit al-Muntar dan berhasil merebut drone pengintai Israel di timur Kota Gaza.
Kementerian Keamanan Israel pada 6 Oktober 2025 mengakui kehilangan besar dengan total 1.152 tentara tewas sejak dimulainya operasi Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Data resmi juga mencatat dampak sosial yang mendalam: lebih dari 6.500 kerabat prajurit kini masuk dalam daftar keluarga berduka, termasuk 1.973 orang tua, 351 janda, 885 anak yatim, dan 3.481 saudara kandung.
Laporan tambahan dari media Israel mengungkap meningkatnya krisis psikologis di kalangan militer, dengan 43 tentara dilaporkan bunuh diri sejak 2023 akibat tekanan pertempuran dan penugasan berkepanjangan.
Konsolidasi Palestina dan Tantangan Implementasi
Sementara itu, Husam Badran, Kepala Kantor Hubungan Nasional Hamas, menegaskan bahwa hasil negosiasi merupakan buah dari keteguhan rakyat Gaza dan kesatuan posisi nasional Palestina.
Ia menjelaskan bahwa Hamas mendekati rencana Trump dengan perspektif nasional menyeluruh, melibatkan seluruh faksi dan tokoh independen untuk menyatukan sikap terhadap tantangan yang dihadapi.
Menurut Badran, Hamas telah mengadakan pertemuan intensif dan komunikasi luas dengan berbagai faksi dan pemimpin Palestina menjelang kesepakatan di Sharm el-Sheikh, dengan komitmen untuk melanjutkan dialog nasional di Kairo guna menyepakati rincian tahap lanjutan.
Gencatan senjata di Jalur Gaza resmi mulai berlaku pada Jumat siang, 10 Oktober 2025, namun koresponden Al Mayadeen melaporkan bahwa pasukan pendudukan kembali membombardir Gaza segera setelah kesepakatan mulai diberlakukan.
Sumber di Channel 12 Israel menyebut bahwa gencatan senjata baru akan berlaku penuh setelah disetujui oleh pemerintah secara resmi pada sore hari.
Perkembangan penting ini menandai babak baru dalam perang dua tahun di Gaza — dimulai dari operasi Badai al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 hingga kesepakatan besar yang diumumkan Hamas pada dini hari 8–9 Oktober 2025, yang mencakup penghentian agresi, penarikan pasukan, pembukaan jalur bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan.
Laporan ini disusun berdasarkan berbagai sumber berita dan pernyataan resmi.


