Skip to main content

Kementerian Kesehatan Israel kembali memperbarui data akumulatif mengenai jumlah korban cedera yang dirawat di berbagai rumah sakit sejak awal pecahnya perang melawan Iran pada Sabtu, 28 Februari lalu. Berdasarkan rilis resmi teranyar pada Jumat, 12 Juni 2026, otoritas medis mencatat adanya tambahan 10 kasus cedera baru sejak pembaruan data terakhir yang dikeluarkan kemarin, sehingga total volume korban luka di pihak Israel kini resmi melonjak dan menyentuh angka 9.152 orang.

Dari total statistik medis tersebut, Kementerian Kesehatan Israel merinci bahwa jumlah korban cedera yang dievakuasi khusus dari front utara—yakni setelah koridor gencatan senjata dengan Iran disepakati—telah merangkak naik menjadi 1.253 orang. Lonjakan angka ini berjalan selaras dengan pengakuan sejumlah media penyiaran Israel yang mengonfirmasi bahwa tiga tentara mereka mengalami luka-luka dalam dua insiden terpisah di wilayah Lebanon Selatan. Dalam insiden pertama, satu unit pasukan infanteri militer Israel dilaporkan menghantam jebakan bom rakitan yang mengakibatkan dua prajurit terluka parah, sementara satu tentara lainnya menderita cedera serius dalam insiden berbeda di medan tempur dan terpaksa dievakuasi dari garis depan menggunakan protokol darurat yang luar biasa.

Menyikapi eskalasi bersenjata yang tidak kunjung mereda di perbatasan, Kepala Dewan Pemukiman Metula, David Azoulay, melayangkan kritik sekaligus keluhan keras terhadap pemerintah pusat di Tel Aviv. Ia menegaskan bahwa entitas Israel secara nyata telah kehilangan kendali atas wilayah utara beserta para pemukimnya akibat hilangnya jaminan keamanan dasar dan terus berlanjutnya perang pasca-gencatan senjata. David Azoulay menggambarkan situasi di mana wilayah pemukiman utara terus dihujani serangan tanpa ada langkah defensif yang efektif sebagai sebuah realitas yang sama sekali tidak masuk akal dan tidak dapat diterima.

Situasi kritis di lapangan ini terus bertahan karena komitmen militer dari Hizbullah yang konsisten menghadang pergerakan pasukan pendudukan di sepanjang garis perbatasan Lebanon-Palestina. Unit perlawanan Hizbullah terus membidik titik kumpul tentara, konvoi kendaraan taktis, serta menggelar berbagai operasi penyergapan terarah demi mempertahankan kedaulatan tanah air dan melindungi rakyat Lebanon dari agresi luar. Sebaliknya, militer Israel dinilai konsisten merusak koridor gencatan senjata dan kesepakatan gencatan senjata dengan Lebanon dengan terus membidik warga sipil, tim medis, serta menghancurkan rumah-rumah penduduk di berbagai sektor Lebanon Selatan hingga wilayah pinggiran Dahiyeh di Beirut, yang mengakibatkan gugurnya sejumlah martir dan jatuhnya korban luka di kalangan warga Lebanon.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Times of Israel