Skip to main content

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa pemberlakuan gencatan senjata di Lebanon merupakan buah murni dari keteguhan pejuang Hizbullah dan soliditas poros perlawanan. Dalam pernyataan resminya, Qalibaf menekankan bahwa Iran akan menyikapi penghentian permusuhan ini dengan kewaspadaan tinggi demi memastikan kemenangan penuh tercapai. Secara khusus, ia memberikan apresiasi kepada Pakistan dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir atas peran mediasi vital yang berhasil mengamankan kesepakatan tersebut. Posisi Iran tetap teguh sejak awal perundingan di Islamabad, di mana Teheran menuntut agar Lebanon menjadi bagian tak terpisahkan dari kesepahaman gencatan senjata menyeluruh dengan Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengungkapkan bahwa penghentian perang ini adalah hasil nyata dari negosiasi intensif antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan selama 24 jam terakhir. Baghaei memuji ketahanan legendaris rakyat Lebanon dan mendesak penarikan total militer Israel dari wilayah pendudukan di Selatan, pembebasan seluruh tawanan, serta rekonstruksi infrastruktur yang hancur. Momentum ini diperkuat oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai gencatan senjata 10 hari yang dimulai sejak tengah malam Jumat, 17 April 2026. Anggota parlemen Lebanon dari blok Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini berhasil dipaksakan melalui jalur diplomatik Iran yang kemudian dikomunikasikan oleh Washington kepada Benjamin Netanyahu.

Di lapangan, suasana kemenangan disambut dengan arus balik besar-besaran warga Lebanon menuju wilayah Selatan dan pinggiran Beirut segera setelah gencatan senjata berlaku. Koresponden Al-Mayadeen melaporkan kemacetan parah di jalur-jalur utama, di mana warga yang mengungsi berbondong-bondong kembali ke desa-desa mereka di wilayah Nabatieh dan sekitarnya sejak fajar menyingsing. Meskipun militer Israel sebelumnya telah menghancurkan jembatan-jembatan utama di Sungai Litani untuk memutus akses antarwilayah, tentara Lebanon bekerja cepat membuka jalur penyeberangan baru, termasuk Jembatan Qasmiyeh, guna memfasilitasi kepulangan warga yang ingin merayakan berakhirnya agresi sementara ini.

Perayaan kemenangan pecah di jalanan Beirut dengan konvoi kendaraan yang mengibarkan bendera perlawanan sebagai simbol keberhasilan mempertahankan kedaulatan. Bagi warga Lebanon, kepulangan ini bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan bentuk kesetiaan terhadap tanah air di tengah bayang-bayang kehancuran infrastruktur akibat serangan udara Israel. Sementara perundingan kualitatif terus dipantau oleh otoritas di Beirut dan Teheran, fokus utama saat ini adalah memastikan pengungsi dapat kembali dengan aman dan memulai proses pemulihan sosial di tengah masa jeda pertempuran yang masih sangat rapuh ini.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera