Skip to main content

Kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan memicu gelombang kritik tajam dan kemarahan di dalam internal entitas Israel pada Rabu, 8 April 2026. Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, mengecam keras Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan menyatakan bahwa ia telah gagal secara politik dan strategis tanpa mencapai satu pun tujuan perang yang ditetapkan. Lapid menyebut situasi ini sebagai bencana politik terbesar dalam sejarah mereka, di mana Israel bahkan tidak dilibatkan dalam meja pengambilan keputusan yang menyentuh inti keamanan nasionalnya. Ia memperingatkan bahwa kerusakan strategis akibat arogansi dan kelalaian perencanaan ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Media massa dan pakar keamanan di Israel turut memberikan penilaian pahit terhadap perkembangan diplomasi tersebut. Surat kabar Maariv mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini pada dasarnya merupakan “penyerahan strategis” yang meninggalkan sebagian besar tujuan perang dan menciptakan realitas regional baru yang menguntungkan Teheran. Para peneliti di Institut Kebijakan Strategis Israel, termasuk Shay Tzvi, menilai bahwa masuknya Lebanon ke dalam perjanjian gencatan senjata merupakan pencapaian luar biasa bagi Iran. Media Israel bahkan mengakui secara terbuka bahwa pihak Iran telah berhasil mendikte pemerintahan Trump, menyebut peristiwa ini bukan sekadar pencapaian biasa, melainkan sebuah kemenangan kolosal bagi Republik Islam tersebut.

Kecaman juga dialamatkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dianggap tidak berdaya menghadapi tekanan. Saluran 14 Israel mempertanyakan kewarasan Trump karena mempromosikan perjanjian penyerahan diri ini sebagai sebuah prestasi, sembari melabeli sang presiden sebagai sosok yang lemah dan menjadi bahan lelucon global. Hal yang paling menyakitkan bagi publik Israel adalah fakta bahwa pengumuman gencatan senjata tersebut bertepatan dengan peluncuran rudal dari Iran menuju wilayah pendudukan, yang dianggap sebagai bentuk penghinaan langsung terhadap kredibilitas pertahanan dan politik mereka. Koresponden militer saluran i24 bahkan melontarkan sindiran tajam terhadap waktu pengumuman yang dianggap sangat memalukan bagi pihak penjajah.

Di tengah gejolak domestik Israel, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran tetap pada deklarasi kemenangannya setelah 40 hari perlawanan sengit. Teheran menegaskan bahwa Washington terpaksa menerima rencana 10 poin yang diajukan Iran setelah kegagalan total pasukan Amerika dan Israel dalam mengendalikan situasi militer. Gencatan senjata yang diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif ini mencakup penghentian permusuhan di seluruh front, termasuk Lebanon, dan dipandang oleh front perlawanan di Irak, Yaman, serta Palestina sebagai bukti nyata runtuhnya ambisi agresor di Asia Barat. Sementara itu, Donald Trump tetap pada keputusannya untuk menangguhkan pemboman selama dua minggu dengan syarat pembukaan Selat Hormuz sebagai jalan menuju negosiasi final.

Sumber berita: Al-Mayadeen

Sumber gambar: Anadolu Agency