Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis pada Minggu, 8 Maret 2026, setelah Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengumumkan keberhasilan penghancuran empat sistem radar THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) milik Amerika Serikat dalam kurun waktu 24 jam. Radar-radar canggih yang terletak di pangkalan militer AS di wilayah Al-Rabh, Al-Ruways, Al-Kharj, dan Al-Azraq tersebut dilaporkan hancur total akibat serangan presisi Iran. Kehancuran infrastruktur deteksi ini berdampak fatal bagi sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat, karena sirene peringatan dini kini hanya akan berbunyi tepat pada saat rudal menghantam target, bukan saat masih di udara. Citra satelit yang dilaporkan CNN mengonfirmasi adanya kerusakan berat pada situs-situs radar THAAD yang tersebar di Yordania, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi tersebut.
Lumpuhnya jaringan deteksi musuh segera diikuti dengan peluncuran gelombang ke-28 Operasi True Promise 4 oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggunakan rudal generasi terbaru. Dalam gelombang ini, IRGC mengerahkan empat rudal “Khaibar” berhulu ledak sangat berat yang menyasar Beersheba dan Tel Aviv. Media Israel melaporkan satu rudal Iran yang membawa lebih dari 16 bom klaster pecah di langit Tel Aviv dan menghantam 16 lokasi berbeda, menyebabkan sedikitnya enam orang terluka akibat serpihan. Ledakan keras yang mengguncang Tel Aviv ini terjadi bersamaan dengan aktifnya sirene di Yerusalem dan perbatasan utara Lebanon akibat ancaman infiltrasi drone.
Selain menyerang pusat kota, Iran juga menargetkan infrastruktur vital militer Amerika Serikat di kawasan. Pangkalan udara Azraq di Yordania, yang merupakan basis ofensif utama bagi jet tempur Amerika, menjadi sasaran utama karena peran strategisnya dalam agresi terhadap Iran. Angkatan Laut IRGC juga melaporkan keberhasilan mereka menghantam unit komando kapal tanpa awak (Shahbad) milik Armada Kelima AS di Bahrain serta gudang pendukung militer Amerika di Bandar Salman, pantai timur Arab Saudi. Serangan ini merupakan kelanjutan dari gelombang ke-27 yang sebelumnya telah menyasar kilang minyak Haifa dan berbagai situs militer AS-Israel lainnya.
Sebagai respons atas kebijakan Presiden Donald Trump dan Gedung Putih, sumber internal Iran melalui kantor berita Fars menyatakan bahwa IRGC akan meningkatkan intensitas operasi drone sebesar 20% dan melipatgandakan serangan rudal strategis hingga 100% mulai malam ini. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya daya tangkal yang kuat dan balasan yang menentukan terhadap setiap agresi militer yang menyasar kedaulatan Iran. Dengan hancurnya sistem peringatan dini THAAD dan peningkatan volume serangan rudal secara drastis, militer Iran kini memiliki keunggulan taktis untuk menembus lapisan pertahanan udara lawan yang mulai rapuh.
Sumber berita: Al-Mayadeen
Sumber gambar: İlke Haber Ajansı



