Wakil Sekretaris Jenderal Gerakan Jihad Islam, Muhammad al-Hindi, menyampaikan kritik tajam terhadap pembentukan “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) di Gaza yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pernyataan pers pada Selasa, 24 Februari 2026, Muhammad al-Hindi menyebut dewan tersebut tidak lebih dari sebuah “pertunjukan teater” yang gagal menghentikan perang pemusnahan yang dilakukan Israel di Jalur Gaza. Ia menuduh dewan yang dipimpin oleh Donald Trump tersebut hanya mengadopsi agenda pendudukan dan semata-mata bertujuan untuk menjamin keamanan wilayah yang diduduki Israel, bukannya memberikan keadilan bagi rakyat Palestina. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa faktor utama ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah adalah pendudukan Israel itu sendiri, bukan persenjataan kelompok perlawanan, seraya menambahkan bahwa Israel memiliki kepentingan besar untuk menyulut perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Muhammad al-Hindi juga menyoroti pernyataan kontroversial Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, yang baru-baru ini menyinggung “hak Taurat” bagi Israel untuk menguasai wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Menurutnya, pernyataan tersebut merupakan bukti nyata dari bias terang-terangan Washington terhadap entitas pendudukan. Muhammad al-Hindi menyatakan bahwa seharusnya pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan kecaman keras serta permohonan maaf secara eksplisit atas retorika Mike Huckabee tersebut, yang dinilai sangat provokatif dan mengancam kedaulatan negara-negara di kawasan. Pernyataan Dubes Mike Huckabee ini sebelumnya telah memicu gelombang kecaman dari berbagai ibu kota negara Arab dan Islam, termasuk Arab Saudi, Mesir, dan Iran, yang memandangnya sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Di lapangan, situasi kemanusiaan dan keamanan di Jalur Gaza terus menunjukkan eskalasi yang mematikan. Pada Selasa, 24 Februari 2026, dua warga Palestina dilaporkan gugur akibat serangan udara Israel yang menargetkan kawasan Tel al-Dahab di Beit Lahia, Gaza utara. Serangan ini menyusul insiden penembakan oleh pasukan Israel di lingkungan Shuja’iyya yang melukai sejumlah warga sipil sehari sebelumnya. Selain serangan udara, artileri Israel juga dilaporkan menggempur beberapa titik di seluruh Jalur Gaza di tengah cuaca ekstrem berupa badai musim dingin dan hujan lebat yang merendam tenda-tenda pengungsi, menciptakan kondisi hidup yang semakin tidak tertahankan bagi jutaan warga yang bertahan di tengah blokade total.
Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengungkapkan data yang mencemaskan terkait jumlah korban sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan. Hingga saat ini, jumlah martir Palestina yang tewas akibat pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel telah meningkat menjadi sekitar 620 jiwa, dengan lebih dari 1.660 orang mengalami luka-luka. Kementerian juga melaporkan bahwa selama empat bulan terakhir, tim evakuasi berhasil mengeluarkan lebih dari 720 jenazah martir dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur. Secara akumulatif, total korban jiwa sejak awal agresi pada Oktober 2023 kini telah menembus angka 72.073 martir, mencerminkan skala tragedi kemanusiaan yang terus berlanjut tanpa ada tanda-tanda penghentian kekerasan yang nyata di lapangan.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Times of Israel



