Skip to main content

Hujan deras yang mengguyur Jalur Gaza pada hari Selasa, 24 Februari 2026, telah mengubah malam-malam di bulan suci Ramadan menjadi perjuangan bertahan hidup bagi jutaan pengungsi Palestina. Sistem tekanan udara rendah yang melanda wilayah tersebut menyebabkan banjir besar yang merendam tenda-tenda di berbagai lokasi, mulai dari wilayah Al-Mawasi di Khan Yunis hingga wilayah Gaza bagian utara. Pertahanan Sipil Palestina melaporkan bahwa tim penyelamat harus merespons puluhan panggilan darurat semalam untuk mengevakuasi keluarga-keluarga yang tempat tinggal sementaranya hanyut atau terendam air setinggi lutut. Kondisi ini merusak harta benda yang tersisa, termasuk pakaian dan persediaan makanan yang sangat minim untuk kebutuhan sahur dan berbuka puasa para pengungsi.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Munir al-Barsh, menegaskan bahwa cuaca ekstrem ini merupakan pukulan telak yang memperburuk krisis kesehatan di Jalur Gaza. Selain ancaman serangan militer yang masih membayangi akibat pelanggaran gencatan senjata, warga kini harus menghadapi ancaman hipotermia dan penyakit pernapasan akibat suhu dingin yang ekstrem. Sejak Desember tahun lalu, rentetan badai telah menghancurkan puluhan ribu tenda dan merobohkan sisa-sisa bangunan yang sudah rapuh akibat pengeboman Israel sebelumnya. Hal ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa baru, di mana beberapa warga dilaporkan meninggal dunia bukan karena serangan fisik, melainkan karena kedinginan yang menusuk tulang di tengah keterbatasan pemanas dan pakaian layak.

Hingga saat ini, sekitar 1,9 juta warga Gaza masih hidup dalam pengungsian dari total populasi 2,4 juta jiwa. Mereka terpaksa mendiami tenda-tenda usang yang tidak dirancang untuk menghadapi badai besar setelah rumah-rumah mereka hancur total selama agresi militer yang berlangsung selama dua tahun terakhir. Blokade yang masih berlangsung menyulitkan masuknya material konstruksi atau tenda tahan air yang memadai, sehingga para pengungsi hanya bisa bergantung pada plastik tipis untuk melindungi diri dari hujan. Tragedi ini menjadi pengingat bagi dunia internasional bahwa penderitaan di Gaza bersifat multidimensi, di mana ancaman alam kini menjadi musuh mematikan yang sama berbahayanya dengan konflik bersenjata yang belum kunjung usai.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera