Skip to main content

Pasukan pendudukan Israel kembali melancarkan serangan udara dan artileri di berbagai wilayah Jalur Gaza pada Jumat, 14 November 2025, meski kesepakatan gencatan senjata masih berlaku. Serangan menargetkan wilayah utara dan selatan Gaza, termasuk zona yang disebut “garis kuning” di timur Khan Younis dan Beit Lahia, serta dua serangan tambahan di barat laut Gaza City. Kendaraan militer Israel juga membuldoser dan menghancurkan area di Deir al-Balah dan kamp-kamp pengungsi di Gaza tengah, di tengah aktivitas intens pesawat tempur Israel di langit wilayah tersebut.

“Garis kuning” merupakan batas yang memisahkan wilayah tempat warga Gaza bertahan dan zona penyangga yang dikuasai pasukan Israel, mencakup sekitar 53% wilayah Jalur Gaza. Zona tersebut ditetapkan sebagai bagian dari rencana gencatan senjata 20 poin yang dipromosikan Presiden AS Donald Trump.

Sejak agresi militer dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 69.000 warga Palestina — mayoritas perempuan dan anak-anak — telah gugur, sementara hampir 170.000 lainnya terluka. Ribuan orang masih terkubur di bawah reruntuhan.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut seluruh fasilitas kesehatan kini berada di bawah tekanan ekstrem, kekurangan obat-obatan, bahan bakar, dan peralatan dasar, sementara blokade Israel terus menghambat pasokan kemanusiaan.

Sementara itu, krisis kemanusiaan semakin memburuk dengan datangnya musim hujan dan dingin. Puluhan ribu keluarga yang kehilangan rumah kini tinggal di tenda-tenda yang terendam air dan tidak sanggup melindungi mereka dari cuaca ekstrem. Data UNRWA menunjukkan bahwa lebih dari 282.000 rumah hancur atau rusak akibat bombardemen Israel, dan 90% infrastruktur sipil Gaza kini lumpuh, dengan kerugian awal mencapai 70 miliar dolar AS.

Sejak Jumat pagi, Pertahanan Sipil Gaza menerima ratusan panggilan darurat dari keluarga pengungsi di wilayah Gaza City, Deir al-Balah, Al-Bureij, dan Nuseirat, setelah hujan deras mengubah kamp-kamp menjadi kubangan lumpur. Otoritas setempat meminta bantuan mendesak dari komunitas internasional, terutama negara-negara penjamin gencatan senjata, untuk menyalurkan tempat tinggal darurat, tenda, dan perlengkapan musim dingin bagi hampir setengah juta pengungsi.

Hamas menyatakan bahwa kamp-kamp pengungsi telah berubah menjadi “rawa lumpur,” menyalahkan Israel atas keterlambatan masuknya bantuan dan menegaskan bahwa kondisi tersebut mencerminkan bencana kemanusiaan yang terus berkembang.

Di tingkat internasional, ketegangan meningkat di Dewan Keamanan PBB. Rusia menyangkal bahwa rancangan resolusi yang diajukannya mengenai Gaza bertentangan dengan proposal Amerika Serikat. Moskow menyusun rancangan alternatif setelah Washington menolak memasukkan formula solusi dua negara ke dalam resolusinya.

Rancangan Rusia menyerukan penghentian permanen agresi Israel dan meminta Sekretaris Jenderal PBB mengkaji pembentukan pasukan internasional untuk stabilisasi Gaza—tanpa menyebut Dewan Perdamaian yang diusulkan AS sebagai otoritas transisi.

Sebaliknya, Amerika Serikat bersama Qatar, Mesir, UEA, Arab Saudi, Indonesia, Pakistan, Yordania, Turki dan sejumlah negara lainnya mendesak Dewan Keamanan segera mengadopsi rancangan resolusi AS yang mencakup pembentukan pasukan internasional dan dukungan penuh terhadap rencana Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.

Dilansir dari berbagai sumber.

Sumber gambar: Shafaq News