Skip to main content

Ketegangan di Lebanon Selatan kembali memuncak setelah serangan udara Israel menyasar sebuah mobil di kota Tallousa, distrik Marjeyoun, pada Senin, 16 Februari 2026. Serangan tersebut mengakibatkan seorang warga Lebanon gugur, menambah daftar korban jiwa menjadi dua orang dalam waktu kurang dari dua belas jam. Sebelumnya, pada pagi hari di hari yang sama, Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan bahwa seorang pengemudi van gugur akibat serangan terhadap kendaraannya di kota Hanin, distrik Bint Jbeil. Rangkaian kekerasan ini berlanjut dari peristiwa malam sebelumnya, Minggu, ketika empat orang dinyatakan gugur dalam serangan udara Israel yang menargetkan sebuah mobil di kota Majdal Anjar.

Rangkaian serangan ini dipandang sebagai bentuk pelanggaran berkelanjutan oleh Israel terhadap Deklarasi Penghentian Permusuhan yang diterbitkan di bawah naungan Amerika Serikat dan Prancis pada 27 November 2024. Selain itu, tindakan militer tersebut dinilai melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tahun 2006 serta kedaulatan wilayah Lebanon. Sejak kesepakatan gencatan senjata tersebut dimulai, kota-kota perbatasan di Lebanon Selatan telah menjadi saksi ratusan serangan, infiltrasi, dan pengeboman yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel.

Merespons meningkatnya eskalasi, tentara Lebanon dilaporkan telah memperkuat pengerahan pasukannya dengan mendirikan empat titik perbatasan di kota Kfarkela. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya serangan dan pengeboman yang terjadi di kota tersebut sejak awal tahun. Selain itu, tentara Lebanon juga telah menetapkan titik posisi baru di sebelah selatan Khallat al-Mahafir, yang terletak di pinggiran kota al-Adisa, guna menjaga stabilitas dan kedaulatan wilayah dari ancaman infiltrasi lebih lanjut.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Shafaq News