Skip to main content

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan sinyal positif terkait perkembangan perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Muscat, Oman, pada Jumat, 6 Februari 2026. Berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan menuju Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan bahwa kedua belah pihak telah melakukan pembicaraan yang sangat baik. Beliau menambahkan bahwa Teheran tampak sangat antusias untuk mencapai sebuah kesepakatan, namun menegaskan bahwa Washington tidak berada di bawah tekanan waktu dan memiliki waktu yang cukup untuk mematangkan draf perjanjian tersebut.

Putaran pertama pembicaraan di Muscat ini mempertemukan delegasi tingkat tinggi dari kedua negara. Iran diwakili langsung oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, sementara Amerika Serikat mengutus perwakilan kepresidenan Steve Witkoff dan Jared Kushner. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al-Busaidi, yang bertindak sebagai mediator dan bertemu secara terpisah dengan kedua delegasi, mendeskripsikan jalannya dialog tersebut sebagai pertemuan yang sangat serius. Senada dengan hal itu, Abbas Araqchi mengonfirmasi bahwa atmosfer perundingan berlangsung konstruktif dan positif, dengan fokus utama pada isu nuklir serta pencabutan embargo ekonomi.

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai agenda pembahasan, pihak Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan pertama dan terbaik bagi Presiden Trump dalam menangani isu internasional. Namun, Leavitt menggarisbawahi posisi tegas Trump bahwa Iran sama sekali tidak boleh memiliki kapabilitas nuklir penuh. Di sisi lain, Abbas Araqchi menekankan bahwa Teheran menempuh jalur diplomasi dengan “mata terbuka lebar” dan tetap berpegang teguh pada hak-hak rakyat serta ketahanan nasional mereka. Beliau memperingatkan bahwa Iran akan mempertahankan diri dari setiap tuntutan berlebihan atau tindakan spekulatif dari pihak Amerika Serikat.

Hasil signifikan dari pertemuan pada Jumat tersebut adalah kesepakatan untuk melanjutkan dialog ke putaran berikutnya yang dijadwalkan pada awal pekan depan. Abbas Araqchi menyatakan bahwa prioritas saat ini adalah mengatasi rasa ketidakpercayaan yang kian meningkat sebagai hambatan utama kemajuan negosiasi. Iran menekankan bahwa kesetaraan status, rasa hormat mutlak, dan kepentingan bersama bukan sekadar slogan, melainkan landasan wajib bagi terciptanya kesepakatan permanen. Detail mengenai waktu, tempat, dan mekanisme pertemuan selanjutnya akan segera ditentukan untuk mencapai kerangka kerja yang lebih jelas bagi stabilitas kawasan Asia Barat.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera