Skip to main content

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers minggu ini menegaskan bahwa Teheran tengah melakukan studi dan penilaian komprehensif terhadap berkas negosiasi nuklir. Beliau menekankan bahwa dalam setiap evaluasi masa depan, Iran tidak akan melupakan pengalaman pahit atas penipuan dan itikad buruk Amerika Serikat yang mencapai puncaknya pada Juni 2025. Baghaei menyatakan bahwa sementara negara-negara di kawasan melakukan upaya mediasi yang tulus, negara-negara Eropa justru berkontribusi dalam memicu eskalasi ketegangan.

Mengawali pernyataannya, Baghaei mengucapkan selamat atas peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam. Ia menyebut kembalinya Imam Khomeini ke tanah air sebagai titik balik di mana Iran mulai mengambil kedaulatan penuh atas keputusan internalnya, sekaligus mematahkan ilusi musuh-musuh yang rakus selama puluhan tahun. Namun, ia menyayangkan bahwa pekan lalu masih diwarnai tindakan provokatif dari Amerika Serikat dan Israel di kawasan, sementara diplomat Iran terus bekerja keras menjaga stabilitas regional melalui kunjungan tingkat tinggi ke Turki dan Rusia.

Terkait situasi di Gaza dan Lebanon, Baghaei mengungkapkan bahwa salah satu serangan paling keji terjadi di tengah periode gencatan senjata yang rapuh, mengakibatkan lebih dari 30 warga Palestina gugur. Ia menuding pembukaan kembali penyeberangan Rafah hanya digunakan sebagai alat untuk melanggengkan kebijakan deportasi dan pengungsian paksa terhadap warga Palestina. Menurutnya, serangan berulang Israel terhadap infrastruktur sipil di Lebanon bertujuan untuk menghalangi proses rekonstruksi pasca perang, sebuah pelanggaran hukum internasional yang harus segera dihentikan oleh Dewan Keamanan PBB guna mengakhiri impunitas Israel.

Menanggapi keputusan permusuhan Uni Eropa terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Baghaei menjelaskan bahwa pemanggilan duta besar negara-negara Eropa merupakan langkah minimal. Kementerian Luar Negeri Iran telah menyiapkan berbagai opsi balasan yang lebih tegas untuk diputuskan dalam beberapa hari mendatang. Ia mengkritik keras strategi Eropa yang dianggap sebagai kesalahan perhitungan strategis, karena IRGC adalah pelindung keamanan Teluk Persia dan aktor utama yang menumpas ISIS. Baghaei menyindir bahwa ucapan selamat dari Israel kepada Jerman atas keputusan ini mengungkap siapa otak sebenarnya di balik skenario tersebut.

Dalam sesi tanya jawab mengenai kemungkinan kaitan antara upaya negosiasi Donald Trump dengan dokumen Jeffrey Epstein yang melibatkan sejumlah pemimpin Eropa, Baghaei menyatakan bahwa meski ia tidak bisa memberikan pendapat resmi, media secara alami mendiskusikan hal tersebut. Ia mencatat adanya indikasi bahwa Israel berulang kali menggunakan skandal semacam itu untuk menekan dan mempengaruhi pengambilan keputusan para politisi Barat. Mengenai prioritas negosiasi, Baghaei membantah anggapan bahwa tujuan Iran telah bergeser dari sekadar mengangkat sanksi menjadi menghindari perang. Baginya, pencabutan sanksi yang tidak adil tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar dalam setiap dialog nuklir.

Terakhir, menanggapi laporan media mengenai pernyataan Menteri Pertahanan Arab Saudi yang bertentangan dengan posisi resmi Riyadh, Baghaei menegaskan bahwa hubungan Iran dan Arab Saudi tetap positif. Ia menyatakan bahwa negara-negara di kawasan memahami bahwa setiap ancaman terhadap Iran akan memiliki dampak lintas batas yang merugikan semua pihak. Kontak intensif terus dilakukan antara Teheran dan Riyadh untuk mencegah pihak ketiga mengeksploitasi isu regional demi kepentingan mereka sendiri.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: The Pioneer