Skip to main content

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Israel tidak akan mampu bertahan tanpa tindakan yang ia ambil, termasuk serangan-serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Pernyataan tersebut dilaporkan oleh platform berita Israel Yanon Magal, yang juga menyebutkan bahwa Donald Trump mengklaim telah mengirimkan kekuatan angkatan laut dalam skala besar ke wilayah Iran dengan harapan kekuatan tersebut tidak perlu digunakan dalam konfrontasi militer secara langsung. Pernyataan Donald Trump ini muncul di tengah ancaman Washington terhadap Teheran serta berlanjutnya dukungan politik dan militer Amerika Serikat terhadap pendudukan Israel. Selama periode terakhir, Donald Trump berulang kali menegaskan komitmen Washington terhadap keamanan Israel, yang bertepatan dengan meningkatnya ketegangan yang bertujuan untuk mengacaukan keamanan di kawasan tersebut.

Terkait kebijakan di Jalur Gaza, media The New York Times melaporkan pada Selasa, 27 Januari 2026, berdasarkan draf resolusi dari Dewan Perdamaian, bahwa dewan tersebut akan memberikan wewenang luas kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengelola wilayah tersebut. Laporan tersebut merinci bahwa Dewan Perdamaian mengizinkan Donald Trump untuk mencalonkan pejabat senior yang akan membantu mengelola Jalur Gaza serta menentukan tanggung jawab mereka masing-masing. Selain itu, dewan tersebut secara tegas melarang individu maupun entitas yang memiliki sejarah kerja sama dengan Hamas untuk berpartisipasi dalam administrasi di wilayah tersebut. Meskipun pelanggaran gencatan senjata oleh Israel terus berlanjut di Jalur Gaza, Donald Trump secara resmi mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Dunia, menunjuk dirinya sendiri sebagai presiden lembaga tersebut, dan menyerukan negara-negara lain untuk bergabung.

Di pihak lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pada Selasa, 27 Januari 2026, bahwa ia tidak akan mengizinkan tentara dari Turki maupun Qatar untuk memasuki wilayah Gaza. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan penolakan keras terhadap pembentukan negara Palestina di Jalur Gaza dan menegaskan bahwa Israel akan tetap mempertahankan kontrol keamanan penuh mulai dari Sungai Yordan hingga ke laut, termasuk di wilayah Jalur Gaza. Dalam sebuah konferensi pers, ia menunjukkan bahwa telah tercapai kesepakatan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pembubaran Hamas dan pelucutan senjata di Gaza, yang menurutnya akan tetap dilakukan baik melalui cara yang mudah maupun cara yang keras.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melanjutkan bahwa kemenangan mutlak hanya akan tercapai setelah kembalinya para sandera, kekalahan total Hamas, dan pelucutan senjata di Jalur Gaza secara menyeluruh. Situasi ini berkembang hanya beberapa hari setelah kesepakatan gencatan senjata di Gaza memasuki fase kedua, meskipun Israel dinilai gagal memenuhi kewajibannya pada fase pertama. Perkembangan ini juga berbarengan dengan pengumuman pembentukan Dewan Perdamaian, Dewan Eksekutif di Gaza, serta Komite Nasional Palestina untuk Administrasi Sektor yang dipimpin oleh Ali Shaath. Seluruh dinamika ini mencerminkan upaya Washington dan sekutunya untuk memperkuat kendali atas wilayah pendudukan di tengah situasi regional yang tidak menentu.

Sumber berita: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera