Hizbullah menyelenggarakan pertemuan publik besar-besaran sebagai bentuk solidaritas terhadap Republik Islam Iran, kepemimpinannya yang bijaksana, serta rakyatnya yang gigih dalam menghadapi sabotase dan ancaman Amerika Serikat-Zionis pada Selasa, 27 Januari 2026. Pertemuan ini juga menjadi ajang kecaman keras atas penghinaan terhadap posisi Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Sayyid Ali Khamenei. Berdasarkan laporan situs berita Al-Ahed News, pertemuan solidaritas tersebut diwarnai dengan berbagai pidato yang menyatakan bahwa Iran tengah membela kebenaran, serta memberikan peringatan bahwa segala bentuk bahaya yang ditujukan kepada Sayyid Ali Khamenei merupakan genderang perang terhadap Islam.
Wakil Ketua Dewan Tinggi Syiah Islam Sheikh Ali Al-Khatib dalam pidatonya menegaskan posisi teguh bersama Republik Islam dan pemimpin besarnya dalam menghadapi kampanye tirani yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Menurut beliau, Republik Islam Iran mewakili kekuatan hak di hadapan hak kekuatan yang diwakili oleh kekuatan tirani dunia. Beliau mempertanyakan mengapa Lebanon tidak mengangkat suara lebih lantang untuk membela Iran, padahal Republik Islam telah memberikan perhatian penuh untuk membebaskan tanah Lebanon dan mendukung rakyatnya di segala bidang. Sheikh Ali Al-Khatib menjelaskan bahwa Iran saat ini merupakan ideologi pengecualian dalam lanskap konflik internasional yang menyajikan alternatif logis dan etis untuk mencapai keadilan di hadapan kebrutalan kekuatan penindas. Beliau menunjukkan bahwa Amerika Serikat terus melanggar hukum internasional demi merampas sumber daya dunia, namun gagal menundukkan Iran di bawah kepemimpinan Sayyid Ali Khamenei yang mengikuti jalan Nabi Muhammad. Beliau memperingatkan Amerika Serikat bahwa ancaman terhadap Sayyid Ali Khamenei berarti perang agama terhadap umat Islam, khususnya mazhab Syiah, yang konsekuensinya tidak dapat diprediksi oleh siapa pun. Selain sebagai pemimpin politik, Sayyid Ali Khamenei ditegaskan sebagai otoritas keagamaan besar bagi sebagian besar umat Muslim dunia.
Sheikh Ali Al-Khatib juga mengimbau para pemimpin dunia, termasuk Paus di Vatikan dan rakyat Amerika Serikat, untuk menyadari bahwa pemimpin mereka telah melibatkan mereka dalam perang entitas Zionis dan kepentingan kelas penguasa yang ambisius. Beliau mendesak adanya intervensi segera untuk menghentikan kegilaan ini sebelum bencana terjadi. Secara spesifik, beliau mengecam pelarangan pendaratan pesawat Iran di bandara Beirut sebagai tindakan bermusuhan dan bentuk ketidaktahuan atas bantuan yang telah diberikan Iran kepada Lebanon, terutama saat menghadapi runtuhnya finansial dan korupsi yang disponsori Amerika Serikat. Beliau memperingatkan pihak-pihak yang bertaruh pada ancaman Amerika Serikat terhadap Iran bahwa nasib taruhan mereka hanya akan membuahkan frustrasi dan kegagalan. Hubungan sejarah antara Lebanon dan Iran, yang sudah terjalin jauh sebelum Revolusi Islam melalui peran ulama Jabal Amel, ditekankan sebagai ikatan suci yang terus dijaga oleh kedua bangsa.
Perwakilan Gerakan Amal Sheikh Hassan Al-Masri dalam pidatonya menyatakan solidaritas dari wilayah pinggiran para pejuang yang terhormat untuk mendukung posisi teguh Iran bersama kaum tertindas di dunia. Beliau mengutuk ancaman yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, yang disebutnya sebagai induk terorisme dunia, serta Israel terhadap sosok intelektual dan yurisprudensi seperti Sayyid Ali Khamenei. Beliau menegaskan bahwa menyerang otoritas keagamaan, baik Islam maupun Kristen, adalah serangan nyata terhadap nilai-nilai agama dan cita-cita moral luhur. Gerakan Amal menyatakan penghormatan kepada Sayyid Ali Khamenei sebagai penjaga warisan revolusi Imam Khomeini dan menegaskan bahwa menargetkan beliau sama saja dengan menargetkan Islam dan kebebasan berpendapat demi kepentingan unipolaritas global yang mengabaikan lembaga internasional.
Ketua Partai Nasional Sosial Rabih Banat, yang berbicara atas nama partai-partai nasional, menekankan bahwa pengepungan mencekik dan sanksi ekonomi terhadap Iran adalah bagian dari proyek kolonial lama yang menargetkan negara-negara yang menolak tunduk. Beliau mengategorikan upaya destabilisasi melalui kelaparan dan hasutan sebagai kejahatan politik dan moral yang sempurna. Beliau mempertanyakan mengapa tawaran bantuan Iran kepada Lebanon sering kali ditolak dan apakah penolakan tersebut merupakan bentuk ketundukan pada kekuatan asing. Beliau memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan menyulut perang yang hanya melayani proyek Zionis dan akan diikuti dengan serangan terhadap Lebanon. Rabih Banat menyatakan bahwa perlawanan, termasuk Partai Sosialis Nasional Suriah, siap membela kedaulatan Lebanon dan menganggap setiap kelonggaran terhadap agresi musuh sebagai pengkhianatan terhadap darah para syuhada.
Sementara itu, Ketua Persatuan Ulama Perlawanan Dunia Sheikh Maher Hammoud menegaskan bahwa Iran tidak ditargetkan karena identitas mazhabnya, melainkan karena Iran menjalankan tugas Al-Quran yang telah dikhianati oleh banyak negara Arab dan Islam lainnya. Beliau menyatakan bahwa Iran berdiri teguh memenuhi kewajiban atas nama umat, berbeda dengan pihak lain yang hanya mengaku mendukung Palestina di lisan, sementara Iran telah memberikan bantuan nyata berupa harta dan dukungan berkelanjutan tanpa henti hingga saat ini. Seluruh pembicara sepakat bahwa keberadaan Republik Islam Iran merupakan benteng pertahanan terakhir bagi martabat wilayah tersebut dari dominasi penjajahan Barat.
Sumber berita: Al-Alam
Sumber gambar: Haberler



