Skip to main content

Dalam upaya sistematis untuk memperkuat kebijakan Yudaisasi dan ekspansi wilayah, sekelompok pemukim ilegal Israel mendirikan pos pemukiman baru di kawasan strategis Khan al-Ahmar, sebelah timur Yerusalem yang diduduki, pada Rabu, 21 Januari 2026. Langkah provokatif ini disertai dengan operasi pemasangan tenda secara masif di lahan milik desa-desa di selatan Nablus, yang memicu bentrokan sengit dengan warga Palestina. Eskalasi ini mencerminkan rencana matang otoritas pendudukan untuk memaksakan fakta baru di lapangan sebagai persiapan menuju aneksasi total wilayah Tepi Barat.

Pemerintah Provinsi Yerusalem mengumumkan bahwa para pemukim mulai membangun pos tersebut hanya berjarak sekitar 60 meter dari sekolah komunitas di Khan al-Ahmar. Tindakan ini merupakan ancaman langsung terhadap keberadaan komunitas pemukiman Palestina serta hak dasar anak-anak untuk mendapatkan pendidikan. Pembangunan pos di lokasi tersebut dianggap sebagai bagian dari kebijakan pemukiman yang bertujuan untuk mengontrol penuh akses lahan dan mengusir penduduk asli secara perlahan melalui intimidasi dan pengepungan wilayah.

Situasi serupa terjadi di selatan Nablus, di mana para pemukim mendirikan tenda-tenda di lahan yang terletak di antara desa Qusra, Talfit, dan Jalud. Ketua Dewan Kota Qusra, Hani Odeh, melaporkan bahwa sejumlah pemukim mulai mengerahkan buldozer untuk meratakan tanah milik ketiga desa tersebut sejak Rabu pagi. Hani Odeh menjelaskan bahwa tenda-tenda tersebut didirikan di area yang dikenal sebagai Ras Ain Einiya sebagai upaya untuk mengunci akses dari sisi barat. Saat ini, wilayah Qusra telah dikelilingi oleh pemukiman ilegal dari tiga sisi, yaitu utara, timur, dan selatan. Jika sisi barat berhasil dikuasai sepenuhnya, maka desa Qusra akan terisolasi total dalam kepungan pemukiman Zionis.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Al Jazeera