Intelijen Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan keberhasilannya melumpuhkan sebuah “jaringan tempur musuh” melalui operasi proaktif yang menyasar operator lapangan serta jaringan pendukung finansial dan persenjataan. Dalam laporannya, pihak intelijen mengonfirmasi penangkapan penghubung utama antara “Organisasi Shahanshah” dengan entitas Israel di wilayah selatan Iran. Selain itu, 31 orang yang teridentifikasi bekerja sama dengan Mossad Israel telah ditangkap, sementara tim khusus pertempuran jalanan di sembilan provinsi di Iran berhasil dibubarkan. Layanan intelijen juga melaporkan telah menerima sekitar 400.000 laporan dari masyarakat yang membantu pengejaran elemen subversif, serta menegaskan komitmen mereka untuk terus menghadapi setiap jaringan tempur musuh.
Sejalan dengan itu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Abdolrahim Mousavi, menyatakan pada Rabu, 14 Januari 2026 bahwa musuh telah menjalankan rencana sistematis dengan mengerahkan elemen teroris terlatih untuk melakukan aksi kekerasan ekstrem di berbagai wilayah negara. Abdolrahim Mousavi menilai bahwa setelah kegagalan dalam perang 12 hari, musuh beralih ke strategi serangan lapangan melalui elemen yang menyusup lewat jalur darat. Ia mengungkapkan bahwa banyak dari operasi teroris tersebut merupakan tindakan sabotase dan upaya kudeta yang dirancang dengan sangat cermat. Menurutnya, Iran belum pernah menghadapi tingkat sabotase seluas ini sebelumnya, di mana elemen teroris di lapangan menjadikan kekerasan dan pembunuhan sebagai pilihan utama, bahkan melakukan penembakan langsung ke arah warga sipil.
Sejak akhir tahun lalu, Iran terus menghadapi gelombang kekerasan dan kerusuhan yang menyebabkan gugurnya ratusan anggota pasukan keamanan dan Basij, kerusakan fasilitas publik maupun pribadi, hingga penyerangan tempat suci keagamaan. Selain itu, pergerakan kelompok separatis di wilayah barat juga menyebabkan gugurnya banyak personel Korps Garda Revolusi Islam.
Menanggapi situasi ini, Anggota Biro Politik Ansar Allah, Mohammed Al-Farah, menilai bahwa apa yang terjadi di Iran saat ini adalah “revolusi buatan” yang dipimpin oleh Israel dan disponsori langsung oleh Amerika Serikat. Menurutnya, ini adalah bagian dari proyek Benjamin Netanyahu untuk mengubah wajah Timur Tengah, membongkar kawasan, dan membentuk kembali peta wilayah sesuai visi Zionis. Melalui akun media sosial X miliknya, Mohammed Al-Farah menyebut Iran sedang membayar harga atas sikapnya yang konsisten melawan hegemoni Amerika Serikat dan agresi Israel, serta dukungannya terhadap bangsa-bangsa tertindas, terutama Palestina.
Mohammed Al-Farah menekankan bahwa Iran merupakan batu penjuru dan pilar utama dalam struktur dunia Islam. Ia memperingatkan bahwa setiap gangguan terhadap Iran akan membuka jalan bagi penargetan negara-negara Islam lainnya secara berturut-turut. Ia mewanti-wanti agar perkembangan ini tidak dianggap sebagai peristiwa lokal yang terbatas secara geografis, melainkan sebuah peringatan dini dari perjuangan eksistensial yang komprehensif. Bahkan, menurutnya, negara-negara yang menempuh jalur normalisasi atau ketundukan kepada Amerika Serikat pun tidak akan luput dari ancaman ini.
Lebih lanjut, Mohammed Al-Farah menyatakan bahwa data menunjukkan negara-negara kunci di dunia Islam, termasuk Turki, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi, akan menjadi target berikutnya tanpa mempedulikan sifat hubungan mereka dengan Washington maupun Tel Aviv. Ia menunjukkan bahwa Amerika Serikat bertekad menerapkan visi komprehensif untuk menggambar ulang peta pengaruh global, termasuk di negara-negara sekutunya sendiri. Baginya, musuh kini telah memasuki tahap pemaksaan kendali langsung dengan tujuan strategis menggulingkan pemerintahan di negara-negara besar dunia Islam untuk digantikan dengan model hegemoni langsung. Mohammed Al-Farah menyimpulkan bahwa negara-negara Arab dan Islam saat ini harus menyadari hakikat momen bersejarah ini dan berdiri teguh melawan rencana Zionis serta proyek Amerika Serikat di Iran dan kawasan, sebelum konspirasi tersebut berubah menjadi gelombang menyeluruh yang melanda semua pihak tanpa kecuali.
Sumber berita: Al Mayadeen
Sumber gambar: Al Jazeera



