Skip to main content

Pada Rabu, 14 Januari 2026, Teheran mengadakan upacara pemakaman bagi para pejuang yang disebut sebagai “Perlawanan Nasional”. Mereka tewas dalam kerusuhan bersenjata di Iran, yang menurut pemerintah disebabkan oleh kelompok perusuh. Upacara ini disebut sebagai pemakaman terbesar dalam sejarah ibu kota Iran dari segi jumlah korban yang dimakamkan sekaligus. Sekitar 300 jenazah dijadwalkan dimakamkan pada hari itu.

Prosesi pemakaman dimulai dari depan Universitas Teheran dan bergerak menuju persimpangan Vali-e-Asr. Acara ini dihadiri oleh masyarakat dalam jumlah besar serta berbagai delegasi resmi. Pemerintah Iran menyatakan bahwa partisipasi luas ini menunjukkan persatuan nasional, solidaritas rakyat, dan dukungan terhadap posisi Republik Islam. Iran juga menegaskan bahwa para pelaku kerusuhan memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris atau separatis yang melayani kepentingan Mossad dan Amerika Serikat.

Apa yang terjadi saat ini tidak hanya bisa dipahami sebagai peristiwa lokal atau insiden keamanan biasa. Banyak pengamat menilai bahwa dunia sedang berada pada momen penting dalam sejarah hubungan internasional. Peristiwa-peristiwa global saat ini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan mencerminkan krisis yang lebih besar. Sejumlah pakar ilmu politik bahkan berpendapat bahwa sistem internasional lama telah runtuh, sementara sistem baru belum sepenuhnya terbentuk. Kondisi ini diperparah oleh konflik yang belum selesai, ketidakpastian global, serta perkembangan teknologi yang cepat dan memengaruhi keseimbangan kekuatan antarnegara besar.

Dalam konteks ini, peristiwa di Iran dipandang sebagai titik krusial dalam proses perubahan tatanan dunia. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan dirinya sebagai penguasa Venezuela, sementara presiden terpilih negara tersebut ditangkap dan sistem politiknya diabaikan. Oleh karena itu, situasi Iran tidak bisa dipersempit hanya pada isu nuklir, program rudal, atau konflik regional semata. Yang terjadi lebih mencerminkan kebuntuan besar dalam sistem global, di mana kepentingan energi bertabrakan dengan geografi, ekonomi dengan keamanan, dan politik dengan logika kekuatan militer.

Perkembangan yang sangat cepat menjadikan Iran pusat perhatian internasional saat ini. Iran memposisikan diri sebagai negara yang menentang dominasi Amerika Serikat atas tatanan dunia, dan sikap ini bukan tanpa dukungan moral dari negara-negara lain yang juga merasa ditekan oleh kekuatan besar. Saat ini, Iran berada di tengah berbagai konflik besar: upaya Amerika untuk mempertahankan hegemoninya, kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan global, keinginan Rusia untuk memperkuat posisinya, serta runtuhnya sistem pengendalian internasional yang terbentuk sejak berakhirnya Perang Dingin. Dalam situasi seperti ini, setiap langkah yang melibatkan Iran berdampak luas, jauh melampaui wilayahnya sendiri.

Sejak Donald Trump kembali memegang kendali kebijakan utama Amerika Serikat, terlihat jelas bahwa Washington meninggalkan pendekatan lama yang lebih berhati-hati dan bertahap. Amerika tidak lagi mengandalkan diplomasi lunak atau proyek kerja sama yang dibungkus dengan istilah ekonomi dan pembangunan. Sebaliknya, kebijakan yang ditempuh kini bersifat mengejutkan, keras, dan langsung menekan negara lain agar tunduk. Iran, Greenland, dan Venezuela menjadi bagian dari kampanye tekanan maksimum ini. Pendekatan tersebut mencerminkan pandangan Trump yang melihat dunia sebagai satu arena besar, di mana wilayah dan negara diperlakukan seperti aset atau peluang bisnis, tanpa memperhatikan kehendak rakyat, sejarah, atau hukum internasional.

Strategi semacam ini meningkatkan ketidakstabilan global secara signifikan. Ketegangan meningkat secara bersamaan di berbagai kawasan, mulai dari Amerika Latin, kawasan Arktik, hingga Asia Barat. Kondisi ini meningkatkan risiko konflik lokal berkembang menjadi krisis global. Situasi ini semakin berbahaya karena ekonomi dunia sedang rapuh dan sulit menyerap guncangan besar. Dalam skenario ini, Iran menjadi titik rawan yang terbuka bagi berbagai kemungkinan, mulai dari tekanan ekonomi ekstrem Amerika hingga dorongan Israel untuk melakukan serangan langsung.

Masa di mana konflik dapat dikendalikan secara terbatas kini dianggap telah berakhir. Upaya menggulingkan pemerintahan Iran pada Juni lalu menunjukkan bahwa tidak satu pun pihak mampu menjaga konflik tetap kecil dan terkendali. Baik Iran, sekutunya, maupun Amerika Serikat menghadapi risiko besar jika konfrontasi meningkat. Oleh karena itu, muncul wacana tentang kemungkinan serangan besar dan menentukan oleh Amerika dan Israel, yang mengandalkan kejutan dan kecepatan. Namun, opsi ini bukanlah tanda kepercayaan diri, melainkan cerminan dari sempitnya pilihan yang tersedia. Iran memiliki kemampuan untuk membalas dengan dampak besar terhadap Israel serta kepentingan dan pangkalan Amerika di kawasan.

Krisis Iran juga tidak dapat dipisahkan dari peristiwa di Venezuela. Penangkapan Presiden Maduro dan rencana Amerika untuk menguasai minyak Venezuela secara langsung berdampak pada kepentingan Tiongkok dan Rusia. Amerika tampaknya menghidupkan kembali versi baru Doktrin Monroe, yang bertujuan menjadikan Amerika Latin sepenuhnya berada di bawah pengaruhnya dan menyingkirkan kekuatan lain. Asia Barat menjadi kawasan penting karena posisinya sebagai jalur utama perdagangan dunia, bukan hanya karena cadangan energinya.

Untuk membatasi pengaruh Tiongkok, Amerika berupaya mengendalikan sumber energi dan jalur distribusinya. Langkah-langkah ini saling terkait: pengaruh atas Terusan Panama, tekanan di Greenland yang dekat dengan Rute Laut Utara, kendali atas minyak Venezuela, dan tekanan terhadap Iran. Iran sendiri memiliki posisi strategis karena menguasai Selat Hormuz dan berpengaruh secara tidak langsung terhadap Bab el-Mandeb melalui sekutunya di Yaman. Bahkan Gaza juga masuk dalam perhitungan ini karena stabilitasnya berdampak pada keamanan Terusan Suez. Lima jalur penting—Panama, Hormuz, Bab el-Mandeb, Suez, dan rute Arktik—menentukan arus perdagangan global. Menguasai jalur ini, ditambah sumber energi utama, berarti memiliki pengaruh besar atas peta politik dunia.

Jika strategi ini berhasil, dunia akan dipaksa memilih antara berpihak pada Amerika Serikat atau Tiongkok. Namun, asumsi bahwa negara-negara target akan menyerah tanpa perlawanan tidak sepenuhnya benar. Iran, khususnya, memiliki kemampuan nyata untuk memberikan balasan yang menyakitkan. Selain itu, nilai strategis Iran bagi Tiongkok dan Rusia meningkat tajam setelah krisis Venezuela. Iran menjadi salah satu penghalang terakhir terhadap proyek pengepungan global Amerika. Bagi Beijing dan Moskow, menerima pendekatan Trump berarti menerima preseden berbahaya yang suatu hari dapat diarahkan kepada mereka sendiri.

Di tengah ancaman krisis ekonomi global dan tumpukan utang dunia, krisis Iran mencerminkan kondisi internasional secara keseluruhan. Dunia sedang bergerak menuju fase di mana keseimbangan lama runtuh, aturan melemah, dan kekuatan kasar semakin menjadi alat utama dalam menentukan arah politik global.

Sumber opini: Al Mayadeen

Sumber gambar: Al Jazeera