Skip to main content

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan yang terjadi di Iran baru-baru ini. Dalam konferensi pers mingguan pada Senin, 12 Januari 2026, Ismail Baghaei menegaskan bahwa campur tangan kedua negara tersebut kini telah menjadi fakta publik setelah Mossad secara terbuka mengumumkan dukungannya terhadap gerakan perusakan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Kedutaan Besar Swiss, yang bertindak sebagai pelindung kepentingan Amerika Serikat di Iran, telah menjadi salah satu saluran komunikasi resmi terkait protes Teheran atas campur tangan ini.

Menjawab pertanyaan mengenai bukti keterlibatan asing, Ismail Baghaei menjelaskan bahwa awalnya pemerintah Iran menyambut protes damai dengan tangan terbuka dan membuka ruang dialog untuk meninjau tuntutan warga. Namun, situasi berubah drastis sejak Kamis ketika aksi protes berubah menjadi kerusuhan yang menggunakan berbagai jenis senjata. Momentum ini terjadi bersamaan dengan pernyataan intervensi dari Amerika Serikat dan entitas Zionis. Ia menegaskan bahwa seluruh tindakan anarkis ini, termasuk serangan terhadap pusat kesehatan, perusakan infrastruktur budaya, hingga aksi teroris seperti pembakaran seorang perawat yang menyerupai metode ISIS, akan didokumentasikan sebagai bukti hukum di tingkat internasional.

Ismail Baghaei juga menyatakan bahwa situasi saat ini merupakan kelanjutan dari agresi Zionis-Amerika terhadap Iran yang terjadi pada Juni 2025. Jika sebelumnya intervensi dilakukan secara terselubung, kini Mossad dengan terang-terangan menyatakan bahwa agen-agen mereka berdiri di belakang perusuh. Menurutnya, tujuan utama intervensi ini adalah untuk memperluas kekacauan dan meningkatkan jumlah korban jiwa di kalangan warga sipil. Pemerintah Iran pun telah menetapkan masa berkabung resmi bagi para warga yang gugur akibat kerusuhan yang menyusup ke dalam aksi protes tersebut.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kataib Hizbullah di Irak, Sayyid Abu Hussein al-Hamidawi, mengeluarkan pernyataan tegas pada Senin, 12 Januari 2026. Ia menyatakan bahwa seluruh kekuatan Poros Perlawanan berdiri sepenuhnya di samping Republik Islam Iran untuk menghadapi segala bentuk agresi. Ia memperingatkan Amerika Serikat bahwa perang melawan Iran tidak akan menjadi perjalanan yang mudah, melainkan akan menjadi “api” yang akan menghancurkan kepentingan Amerika Serikat sekaligus menghinakan mereka di kawasan.

Sayyid Abu Hussein al-Hamidawi menekankan bahwa membela kedaulatan Iran adalah kewajiban agama dan moral bagi para pejuang. Ia menyerukan kepada rakyat Irak dan anggota Poros Perlawanan untuk tetap waspada dan tidak terpengaruh oleh provokasi para pengkhianat yang bekerja untuk kepentingan imperialis. Dalam peringatan langsungnya kepada pihak musuh, ia menegaskan bahwa jika perang tersulut, Amerika Serikat akan membayar harga dua kali lipat lebih mahal dari keuntungan yang diharapkan oleh pemimpin mereka yang serakah.

Sumber berita: Al-Alam

Sumber gambar: Rudaw